lisensi

Jumat, 30 Oktober 2026, Oktober 30, 2026 WIB
Last Updated 2026-10-30T16:38:31Z
BudayaGubernur MirzaTradisi Betenung Lampung

Serunya Gubernur Mirza Dikerumuni Mak -Mak Saat Ikuti Tradisi Betenung di Pekurun Lampura

Advertisement



 Lampung Utara (Pikiran Lampung) - Sebagai pemimpin yang terkenal alim dan istiqomah, Gubernur Lampung, H. Rahmad Mirzani Djausal atau biasa disapa Yai Mirza, senantiasa berusaha dekat serta hadir di tengah masyarakat. 


Hal ini terlihat juga saat Yai Mirza melakukan kunjungan kerja ke Lmapung Utara (Lampura) Kamis (29/10/2026) kemarin. 


Dimana, saat menyambangi Desa Pekurun, Kecamatan Abung Pekurun, Gubernur Mirza tak sungkan membaur dengan semua lapisan masyarakat. Gubernur Mirza tampak sumringah, akrab dan penuh dengan kekeluargan seakan tanpa skat antara pemimpin dan rakyatnya. 


Yai Mirza duduk di kursi sederhana layaknya seorang anak -anak Lampung yang sedang bercengrama dengan oranya tua serta saudaranya, [enuh dengan gelak tawa dan obrolan khas kampung- kampung Lampung Abung pada umumnya. 


Ada satu momen dimana Gubernur Mirza dikerubuni kaum ;penguasa dunia' alias kaum hawa alias kaum mak -mak di Desa Pekurun. Dan di momen itu, Yai Mirza ditodong mak -mak untuk Betenung atau membaca  isyarat atau pribadi seseorang dengan media gelas yang berisi kopi yang sudah diminum. 




Seorang mak -mak tampak melihat gelas kopi sang gubernur dan seraya mengatakan peruntungan sang gubernur dengan nada kocak dalam bahasa khas Lampung Abung Mergo Selagai. 


" Nah sekam ijo ago masso duit Balak wo kalei Pak Gubernur," jelas ibu itu. Atau Pak gubernur diprediksi akan mendapatkan rezeki besar dari yang Maha Kuasa. 


Tampak Gubernur Mirza megikuti alur candaan mak -mak yang sedang membaca peruntungan gubernur maupun sifat sifatnya dengan antusias. 


Obrolan santai dengan canda tawa penuh kekeluargaan tersebut tampak sangat dinikmati oleh sang gubernur. Yai Mirza tampak sekali -kali membalas candaan para kaum hawa dan para pengawal mereka alias suaminya terrsebut dengan bahasa Lampung Abung dan Sungkai. 


Tradisi Betenung atau Tenung, telah berlangsung sejaka ratusan tahun silam. Tradisi in berkembang di Masyarakat Lampung Abung, Megow Pak dan Sungkai Bunga Mayang serta sebagian Pubian dan Way Kanan.  


Saat ini, tradisi ini terancam punah, selain pembaca atau penenung sudah mulai langka, tradisi ini bertentangan dengan ajaran Agama Islam, karena seorang Muslim dilarang percaya ramalan tertentu karena sejatinya apa yang akan terjadi sesaui dengan kehendak Alloh yang Maha Kuasa. 


Sejarah tenung sendiri dari beberapa cerita lisan, berawal dari seorang penasehat kerajaan di Lampung pada masa lampau yag membaca kekuatan musuh dan mengatur strategi untuk memenangkan perang dengan sisa bubuk kopi yang sudah diminum. 


Cerita lain juga menyebutkan, jika Tenung adalah cara Permaisuri atau selir membaca karakter serta kejujuran Raja dari ampas di gelas kopi yang dia minum. 


Namun, dalam perkemabanganya, Tenung berkembang jadi disalahgunakan untuk membaca nasib seseorang yang jelas sangat bertentangan dengan ajaran Agama Islam. 


Wawan Nunyai