Advertisement
Bandarlampung (Pikiran Lampung)- Kesehatan fisik dan produktivitas kerja masyarakat Kota Bandar Lampung kembali menjadi sorotan penting di tengah dinamika aktivitas harian yang kian padat.
Salah satu gangguan kesehatan yang kerap diabaikan namun memiliki dampak signifikan terhadap kenyamanan bekerja adalah Carpal Tunnel Syndrome (CTS).
Kondisi medis ini pada dasarnya merupakan gangguan yang terjadi akibat saraf median di pergelangan tangan mengalami tekanan.
Tekanan kronis pada area tersebut memicu berbagai keluhan fisik yang mengganggu.
Keluhan yang paling sering dirasakan oleh penderita meliputi rasa nyeri, kesemutan, mati rasa, hingga penurunan kekuatan pada tangan dan jari-jari.
Secara spesifik, sensasi kesemutan atau mati rasa kerap menyerang area ibu jari, telunjuk, jari tengah, serta setengah bagian dari jari manis.
Selain itu, penderita juga sering kali mengeluhkan nyeri pada pergelangan tangan yang dapat menjalar hingga ke bagian lengan.
Rasa kebas tersebut biasanya menjadi lebih intens dirasakan pada malam hari atau seusai seseorang melakukan aktivitas fisik yang berulang.
Dampak lanjutan dari sindrom ini adalah terjadinya kelemahan pada genggaman tangan secara keseluruhan.
Kondisi ini tentu menyulitkan penderita dalam melakukan berbagai aktivitas kecil sehari-hari.
Contoh aktivitas harian yang menjadi sulit dilakukan antara lain mengancingkan baju atau memegang benda-benda berukuran kecil.
Menanggapi potensi risiko kesehatan kerja ini, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, Muhtadi Arsyad Temenggung, memberikan perhatian serius terhadap pentingnya kesadaran masyarakat.
Menurutnya, gangguan kesehatan seperti CTS sering kali dipicu oleh kebiasaan kerja yang kurang memperhatikan aspek ergonomis.
"Gangguan seperti CTS ini sering kali tidak disadari sejak dini oleh para pekerja, padahal dampaknya bisa sangat mengganggu produktivitas harian," ujar Muhtadi kepada Radar Lampung, pada Senin, 2 November 2026.
Muhtadi menjelaskan bahwa terdapat sejumlah faktor utama yang menjadi penyebab timbulnya CTS di tengah masyarakat.
Penyebab tersebut di antaranya meliputi gerakan tangan yang dilakukan secara berulang-ulang dalam durasi waktu yang lama.
Selain itu, posisi pergelangan tangan yang tidak netral seperti menekuk terlalu ke atas atau ke bawah saat beraktivitas juga memperbesar risiko tekanan pada saraf median.
Beban kerja yang berlebihan serta faktor individu turut memegang peranan penting dalam kemunculan sindrom ini.
Beban kerja yang berlebihan serta faktor individu turut memegang peranan penting dalam kemunculan sindrom ini.
Faktor individu yang dimaksud mencakup rentang usia produktif antara 30 hingga 60 tahun, kondisi obesitas, riwayat penyakit diabetes, hingga arthritis.
Guna menekan angka kasus dan mencegah timbulnya CTS di lingkungan kerja maupun masyarakat luas, sambung Muhtadi, Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung mengimbau agar warga menerapkan langkah pencegahan yang tepat.
"Langkah awal yang krusial adalah memastikan posisi kerja yang ergonomis setiap hari,"kata Muhtadi.
Masyarakat disarankan untuk memastikan posisi pergelangan tangan berada dalam keadaan netral atau lurus.
Selain itu, posisi siku dianjurkan membentuk sudut 90 derajat, serta penataan meja dan kursi kerja harus disesuaikan dengan standar ergonomi yang baik.
Sebagai solusi praktis di tengah kesibukan kerja, Muhtadi juga menekankan pentingnya mengambil waktu istirahat secara berkala. Pekerja dianjurkan untuk beristirahat sejenak setiap 30 hingga 60 menit dengan melakukan peregangan ringan selama 1 hingga 2 menit. (Rahmadi)

