lisensi

Senin, 02 November 2026, November 02, 2026 WIB
Last Updated 2026-11-03T07:40:36Z
Banjir Lahar Gunung SemeruHukum

Puluhan Rumah Rusak Berat, Akses Jalan Terputus Akibat Banjir Lahar Dingin Gunung Semeru

Advertisement

 


Jatim (Pikiran Lampung)- Bencana alam kembali menguncang kawasan Jawa Timur, yakni banjir lahar dari Gunung Semeru, Lumajang pada Senin (2/11/2026) kemarin.

 

Dimana, aktivitas vulkanik Gunung Semeru kembali menimbulkan ancaman bagi masyarakat yang tinggal di kawasan lerengnya.

 Hujan deras yang mengguyur wilayah Lumajang, Jawa Timur, sejak hari Ahad, memicu banjir lahar dingin bercampur lumpur vulkanik hingga menerjang sejumlah kawasan permukiman warga.


 Dan data terbaru  menyebutkan jika dua orang warga setempat tewas akibat dampak bencana tersebut.

 


Derasnya aliran material vulkanik tersebut membawa dampak cukup besar, mulai dari kerusakan bangunan hingga terputusnya akses jalan yang menghubungkan sejumlah dusun. Situasi ini membuat warga di sekitar aliran sungai yang berhulu di Gunung Semeru harus meningkatkan kewaspadaan.

 

Terjangan banjir lahar dingin dilaporkan merusak sejumlah bangunan rumah yang berada di kawasan kaki Gunung Semeru. Arus air yang bercampur pasir, batu, dan lumpur vulkanik mengalir deras sehingga menimbulkan kerusakan pada sejumlah infrastruktur.

 

Sementara itu, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengidentifikasi kerusakan infrastruktur sumber daya air akibat banjir lahar Gunung Semeru. Kementerian juga menyiagakan alat berat dan material untuk mendukung penanganan darurat setelah kondisi dinyatakan aman.

 


Identifikasi dilakukan Satgas Penanggulangan Bencana BBWS Brantas di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Senin, 2 November 2026. Langkah tersebut bertujuan mengetahui kondisi infrastruktur terdampak sekaligus menentukan kebutuhan penanganan lebih lanjut.

 

Banjir lahar terjadi setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur puncak, lereng Semeru, serta kawasan sekitar aliran sungai. BBWS Brantas mencatat curah hujan mencapai 134,6 milimeter dalam pengamatan pukul 00.00 hingga 06.30 WIB.

 

Peningkatan debit sungai membawa material vulkanik dan berdampak terhadap sejumlah infrastruktur pengendali aliran sungai. Identifikasi awal juga menemukan tanggul beton pengendali banjir dan lahar tertimbun material vulkanik Semeru.

 

Tiga bangunan sabo dam serta tanggul sungai di bawah jembatan gantung juga mengalami pengikisan. Kerusakan tersebut menjadi bagian dari inventarisasi untuk menentukan kebutuhan penanganan pada masing-masing lokasi terdampak.

 


Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan komitmen kementeriannya dalam menangani dampak bencana di daerah. Ia menyebut keselamatan dan pemulihan warga terdampak menjadi prioritas utama pemerintah.

 

“Kementerian PU berkomitmen untuk menangani dampak bencana dengan mengerahkan seluruh sumber daya yang ada. Keselamatan dan pemulihan warga terdampak menjadi prioritas utama kami,” kata Menteri Dody dalam keterangan tertulis yang dikutip Selasa, 3 November 2026.

 

Sebagai langkah awal, Satgas Penanggulangan Bencana BBWS Brantas mengevakuasi personel dan peralatan proyek dari lokasi terdampak. Kepala BBWS Brantas Muhammad Noor mengatakan, langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari penanganan awal bencana.

 

"BBWS Brantas juga menyiagakan bahan banjiran dan alat berat yang dibutuhkan. Ini semua untuk mendukung penanganan darurat apabila kondisi di lapangan telah dinyatakan aman," kata Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) tersebut.

 

 

Kementerian PU melalui BBWS Brantas terus berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Pos Pengamatan Gunung Api Semeru. Pemantauan mencakup aktivitas vulkanik, kondisi cuaca, serta potensi peningkatan debit sungai di kawasan terdampak.

 

Di Sungai Regoyo, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, kondisi air dilaporkan telah surut. Namun, penanganan darurat fisik belum dapat dilakukan karena kondisi lokasi masih berbahaya bagi petugas.

 

BBWS Brantas terus menginventarisasi tingkat kerusakan dan kebutuhan penanganan pada setiap lokasi terdampak. Mobilisasi alat berat, personel tanggap darurat, serta material penanganan dilakukan setelah kondisi dinyatakan aman.

 

Berdasarkan rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), aktivitas Gunung Semeru saat ini berada pada Level III (Siaga). Masyarakat dilarang beraktivitas di sektor tenggara Besuk Kobokan hingga radius 13 kilometer dari puncak.

 

Di luar radius tersebut, masyarakat diminta menjauhi tepian sungai sepanjang Besuk Kobokan sejauh 500 meter. Warga juga diminta mewaspadai awan panas, guguran lava, serta aliran lahar di sungai berhulu Semeru.

 

Ancaman tersebut terutama perlu diperhatikan di Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. Kementerian PU mengimbau masyarakat mematuhi rekomendasi PVMBG serta arahan petugas, terutama ketika hujan berintensitas tinggi. (tim/R12)