lisensi

Minggu, 28 Desember 2025, Desember 28, 2025 WIB
Last Updated 2025-12-29T03:16:34Z
Banjir Di Natar Lampung Selatan

Banjir Natar Kembali Berulang, Warga Sindir Pemkab Lampung Selatan: Janji Tinggal Slogan

Advertisement

 


Lampung Selatan (Pikiran Lampung) – Hujan deras yang mengguyur wilayah Natar kembali membuka borok lama pengelolaan infrastruktur di Kabupaten Lampung Selatan. Kawasan vital seperti bawah Flyover Natar dan Pasar Natar, Kecamatan Natar, kembali lumpuh akibat banjir parah, Kamis (25/12/2025). Aktivitas warga terhenti, perdagangan tersendat, dan jalan utama berubah menjadi kubangan air.


Bagi warga, peristiwa ini bukan kejadian luar biasa, melainkan rutinitas tahunan yang terus berulang tanpa solusi nyata. Setiap hujan deras turun, genangan air dengan cepat naik merendam jalan hingga masuk ke rumah-rumah warga. Buruknya sistem drainase, gorong-gorong sempit dan tersumbat, hingga pendangkalan saluran air disebut sebagai biang keladi yang dibiarkan bertahun-tahun.


“Setiap hujan deras pasti banjir. Air cepat sekali naik, jalan dan rumah terendam. Ini sudah kejadian lama, tapi tidak pernah benar-benar diperbaiki,” keluh seorang warga di lokasi banjir.


Kondisi ini membuat warga mempertanyakan keseriusan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan dalam mewujudkan slogan “Pembangunan Merata” yang kerap digaungkan. Di mata masyarakat Natar, jargon tersebut terdengar hampa. Infrastruktur pengendali banjir justru terkesan dianaktirikan, berbanding terbalik dengan gencarnya janji politik saat musim kampanye Pemilu maupun Pilkada.


Banjir tak hanya merusak barang-barang milik warga dan fasilitas umum, tetapi juga mengancam keselamatan pengguna jalan yang melintas di bawah flyover. Ironisnya, respons pemerintah baru terlihat setelah persoalan ini ramai disorot media.


Data di lapangan mencatat sedikitnya 15 rumah warga terendam banjir dengan ketinggian air mencapai 50 hingga 100 sentimeter. Banjir dipicu kombinasi curah hujan tinggi dan kondisi infrastruktur yang buruk, mulai dari gorong-gorong berukuran tidak memadai, saluran air tersumbat sampah, bangunan liar di bawah flyover, hingga pendangkalan sungai yang menghambat aliran air.


Baru pada Jumat (26/12/2026), Camat Natar, pemerintah desa setempat, serta UPT PU Natar terlihat mendatangi lokasi. BPBD Lampung Selatan menyusul untuk melakukan pendataan dan penanganan darurat. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.


Pemerintah daerah kemudian bergerak cepat membentuk posko kesehatan, membersihkan gorong-gorong tersumbat, serta menyalurkan bantuan logistik berupa sembako, selimut, dan kebutuhan sandang. Warga juga diimbau tetap waspada dan mengawasi anak-anak agar tidak bermain di sekitar genangan air.


Namun bagi warga, langkah darurat itu belum menjawab akar persoalan. Mereka mendesak Pemerintah Desa Natar, Dinas Pekerjaan Umum, dan Pemkab Lampung Selatan untuk berhenti sekadar reaktif dan segera melakukan normalisasi drainase secara menyeluruh.


“Kami tidak butuh janji manis atau baliho kampanye. Kami butuh gorong-gorong diperbaiki supaya tidak was-was setiap hujan. Kami kebanjiran, tapi pejabat sibuk pencitraan,” tegas warga.


Banjir Natar kembali menjadi cermin keras bahwa tanpa perencanaan dan keberpihakan nyata pada kebutuhan dasar masyarakat, pembangunan hanya akan tinggal slogan—sementara warga terus menanggung dampaknya setiap musim hujan.(Red)