Advertisement
Bandarlampung (Pikiran Lampung) –Warga yang ada di Provinsi Lampung meminta warga tetap waspada bencana dan perubaha cuaca. Salah satunya apa yang disebut awan ‘kembang kol’.
Analis Bencana
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung Wahyu Hidayat
mengimbau masyarakat dapat meningkatkan kewaspadaan terhadap terjadinya bencana
alam dengan mendeteksi perubahan cuaca melalui terbentuknya awan Cumulonimbus
di wilayah itu.
"Untuk alam sebenarnya perubahannya dapat dideteksi
dan ditandai. Kalau kita sudah melihat peristiwa awan berbentuk kembang kol di
langit itu berpotensi membentuk angin kencang. Biasanya diiringi dengan suara
gemuruh dan langit yang abu-abu, walaupun di saat itu hujannya tidak deras. Itu
tanda-tanda alam yang bisa kita waspadai," ujar Analis BPBD Lampung Wahyu
Hidayat di Bandarlampung, Senin.
Ia mengatakan masyarakat dapat menjadikan fenomena awan
Cumulonimbus atau awan berbentuk kembang kol yang ada di langit sebagai penanda
akan terjadinya bencana alam, seperti angin kencang, puting beliung, dan
banjir.
"BPBD Provinsi Lampung pun mengimbau seluruh
masyarakat Lampung juga mewaspadai perubahan cuaca menuju fase hidrometeorologi
basah dan terbentuknya awan Cumulonimbus," katanya.
Menurut dia, fase hidrometeorologi basah tersebut
periodenya sudah dimulai sejak Dasarian II Oktober tepatnya pada 11 Oktober
2025 dan terus berlanjut hingga Februari 2026.
"Kami mencatat beberapa daerah sudah mengalami
sejumlah bencana dan beberapa peristiwa yang mengarah menuju kepada terjadinya
bencana," ucapnya.
Pihaknya pun meminta masyarakat yang ada di Kabupaten
Tulang Bawang Barat, Tanggamus, Pesisir Barat, dan di sebagian Kabupaten
Lampung Selatan, serta sejumlah daerah lainnya, agar tetap waspada akan
terjadinya bencana alam.
"Tentu gejala-gejala ini harus meningkatkan
kesiapsiagaan kita, bahwa kita berada di sekitar zona bahaya, dan berada di
sekitar potensi bencana yang bisa muncul kapan saja. Oleh karena itu
kesiapsiagaan masyarakat dituntut untuk lebih ditingkatkan," ucapnya.
Menurut dia, yang pertama dapat dilakukan oleh masyarakat
dalam menghadapi curah hujan yang tinggi yaitu selain mewaspadai bencana dengan
mendeteksi adanya awan Cumulonimbus, juga harus memperhatikan info BMKG
mengenai situasi cuaca hari ini.(ant/p1)