lisensi

Jumat, 26 Desember 2025, Desember 26, 2025 WIB
Last Updated 2025-12-27T05:46:11Z
Destinasi Wisata Yogyakarta Diserbu Pengunjung

Malioboro, Candi Prambanan dan Keraton 'Sedot' Wisatawan Kunjungi Yogyakarta Saat Nataru 2025

Advertisement


Yogyakarta (Pikiran Lampung) - Kawasan wisata Yogyakarta kembali membuktikan daya tariknya sebagai destinasi unggulan nasional saat libur panjang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Jutaan wisatawan domestik hingga mancanegara memadati sejumlah ikon wisata, mulai dari Malioboro, Candi Prambanan, hingga kawasan Keraton Yogyakarta. Lonjakan kunjungan ini sejalan dengan meningkatnya tingkat hunian hotel dan kuatnya tren wisata domestik selama momentum libur akhir tahun.


Salah satu titik terpadat adalah Jalan Malioboro, ikon wisata Yogyakarta yang telah dikenal sejak era kolonial. Kawasan ini tidak hanya menjadi pusat belanja dan kuliner, tetapi juga ruang publik yang merepresentasikan denyut kehidupan budaya kota. Nama Malioboro sendiri memiliki beragam versi asal-usul, mulai dari bahasa Sansekerta yang berarti “karangan bunga” hingga kaitannya dengan nama Marlborough pada masa kolonial Inggris. Terlepas dari perbedaan versi sejarah tersebut, Malioboro telah menjadi pusat aktivitas sosial dan budaya sejak abad ke-18.


Selama masa libur Natal dan Tahun Baru 2025–2026, jumlah wisatawan yang memadati Malioboro diperkirakan mencapai 1,4 hingga 1,5 juta orang, meningkat signifikan dibandingkan periode libur sebelumnya. Arus wisatawan tampak memadati kawasan pedestrian, pusat oleh-oleh, hingga sentra kuliner tradisional khas Yogyakarta.


Lebih dari sekadar destinasi belanja, Malioboro dinilai sebagai ruang urban yang menyatukan sejarah, budaya lokal, seni jalanan, dan interaksi sosial. Energi inilah yang menjadikan kawasan tersebut selalu hidup dan menjadi magnet utama wisatawan yang berkunjung ke Kota Gudeg.


Selain Malioboro, Candi Prambanan juga menjadi destinasi favorit wisatawan selama libur Nataru. Kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia ini dibangun pada abad ke-9 Masehi oleh Dinasti Mataram Kuno dan menjadi simbol kejayaan peradaban Hindu di Jawa. Tiga candi utamanya melambangkan Trimurti, yakni Brahma, Wisnu, dan Siwa.


Selama periode libur akhir tahun, kunjungan wisatawan ke Candi Prambanan diprediksi mencapai sekitar 160.697 orang, meningkat sekitar 11 persen dibandingkan libur Nataru tahun sebelumnya. Keindahan arsitektur candi yang megah, berpadu dengan kisah legenda Roro Jonggrang serta pertunjukan seni Ramayana, menjadikan Prambanan tetap diminati wisatawan nusantara maupun mancanegara.



Sementara itu, Keraton Yogyakarta sebagai pusat kebudayaan Jawa klasik juga terus menarik minat wisatawan. Didirikan bersamaan dengan berdirinya Kasultanan Yogyakarta pada abad ke-18, keraton ini tidak hanya berfungsi sebagai istana resmi Sultan, tetapi juga menjadi pusat pelestarian adat, seni, dan tradisi Jawa. Di lokasi ini juga berdiri Museum Kereta yang memiliki banyak koleksi kereta kerajaan dari beberapa generasi. Secara filosofis, keberadaan keraton terhubung dengan sumbu imajiner yang membentang dari Gunung Merapi, Malioboro, hingga Pantai Selatan.


Meski belum terdapat angka pasti terkait jumlah kunjungan wisatawan ke Keraton selama Nataru, pengelola destinasi melaporkan adanya tren peningkatan kunjungan di kawasan wisata sejarah dan budaya. Keunikan Keraton sebagai ruang hidup dinasti Kesultanan menjadikannya lebih dari sekadar objek wisata, melainkan sumber pembelajaran budaya yang autentik.



Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta memperkirakan total kunjungan wisatawan selama libur Natal dan Tahun Baru 2025–2026 mencapai 1,5 hingga 2 juta orang di seluruh wilayah Yogyakarta. Angka tersebut mencerminkan pemulihan sektor pariwisata yang semakin kuat pascapandemi.


Dengan perpaduan kekayaan sejarah, budaya yang masih hidup, serta dinamika kota yang terus berkembang, Yogyakarta pada momentum Nataru 2025 tidak sekadar menjadi destinasi wisata yang ramai. Lebih dari itu, Yogyakarta tampil sebagai fenomena pariwisata budaya yang menawarkan pengalaman bermakna bagi wisatawan yang mencari lebih dari sekadar destinasi, tetapi juga cerita dan nilai dalam setiap perjalanan.(madi)