lisensi

Senin, 29 Desember 2025, Desember 29, 2025 WIB
Last Updated 2025-12-30T14:17:17Z
Nasional

Sarinah, Dari Peristiwa Kebakaran Hingga Warisan Cinta Bung Karno pada Rakyat

Advertisement


Jakarta (Pikiran Lampung) – Kebakaran sempat menggegerkan kawasan Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Ahad (28/12/2025) malam. Diduga akibat korsleting listrik, sebuah papan reklame atau billboard yang menempel di dinding bagian depan samping sisi selatan Gedung Sarinah terbakar. Api melahap bagian luar reklame dan memunculkan kepulan asap, namun tidak sampai merembet ke dalam gedung pusat perbelanjaan tersebut.


Peristiwa itu kembali menarik perhatian publik pada Gedung Sarinah, salah satu ikon bersejarah di jantung Ibu Kota. Di balik namanya yang sederhana, Sarinah bukan sekadar nama perempuan biasa, melainkan sosok “ibu” yang memiliki pengaruh besar dalam membentuk pemikiran Presiden pertama Republik Indonesia, Ir Soekarno, terutama keberpihakannya kepada rakyat kecil.


Mungkin tak sedikit yang bertanya, mengapa pusat perbelanjaan yang berdiri di salah satu perempatan tersibuk di Jakarta itu justru diberi nama perempuan yang terdengar sederhana: Sarinah. Sosok Sarinah sendiri merupakan pengasuh sekaligus ibu angkat Bung Karno semasa kecil.


Kisah Sarinah bermula dari sebuah rumah kecil di Mojokerto, tempat pasangan suami istri Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai tinggal. Dari pasangan inilah lahir seorang anak laki-laki yang kelak dikenal sebagai Proklamator dan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir Soekarno.


Dalam kehidupan keluarga kecil tersebut, Sarinah hadir sebagai asisten rumah tangga. Namun perannya jauh melampaui sekadar pembantu. Jika dari sang ibu, Ida Ayu Nyoman Rai, Soekarno mewarisi garis bangsawan, maka dari Sarinah ia mewarisi rasa cinta kasih, empati, dan penghormatan terhadap sesama manusia, khususnya rakyat jelata.


Dalam buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams, pada bab ketiga berjudul Mojokerto: Kesedihan di Masa Muda halaman 35, Soekarno menceritakan hubungan batin yang sangat kuat antara dirinya dengan Sarinah. Dari kisah itu tergambar jelas betapa besar pengaruh Sarinah dalam membentuk karakter Soekarno kecil.


Soekarno menuturkan, Sarinah bukan diperlakukan sebagai pelayan sebagaimana pengertian Barat, melainkan sebagai bagian dari keluarga. Ia tinggal serumah, makan bersama, dan hidup dalam semangat gotong royong yang kental.


“Dialah yang mengajarkanku mengenal cinta kasih. Sarinah mengajarkanku untuk mencintai rakyat, massa rakyat, rakyat jelata,” ungkap Soekarno dalam buku tersebut.


Nasihat Sarinah tentang pentingnya mencintai ibu dan rakyat kecil tertanam kuat dalam benak Soekarno, bahkan lebih dalam daripada makanan yang ia masak dan hidangkan untuknya. Sosok Sarinah menjadi kekuatan besar dalam masa muda Bung Karno, sebuah pengakuan yang disampaikan tanpa ragu.


Begitu kuatnya pengaruh Sarinah dalam perjalanan hidup Soekarno, hingga namanya diabadikan sebagai pusat perbelanjaan modern pertama di Indonesia. Bung Karno melakukan peletakan batu pertama Gedung Sarinah pada 17 Agustus 1962.


Dalam peresmian itu, Bung Karno menegaskan bahwa Sarinah didirikan sebagai sarana promosi barang-barang produksi dalam negeri, terutama hasil pertanian dan industri rakyat. Gedung tersebut dirancang dengan bantuan arsitek Abel Sorensen dari Denmark dan dibiayai dari dana rampasan perang Jepang.


Sarinah dimaksudkan sebagai representasi rakyat kecil dan alat untuk menggerakkan perekonomian nasional agar bangsa Indonesia dapat berdiri di atas kaki sendiri. Bung Karno bahkan menegaskan bahwa komposisi barang impor tidak boleh lebih dari 40 persen, sementara 60 persen harus berasal dari produksi dalam negeri.


Namun seiring berjalannya waktu dan perubahan arah kebijakan ekonomi nasional, cita-cita tersebut dinilai memudar. Sejarawan dan penulis Peter Kasenda menilai, masuknya era Orde Baru dengan orientasi ekonomi liberal sangat memengaruhi arah dan fungsi Sarinah.


Menurut Peter, Sarinah yang awalnya dicita-citakan sebagai penyalur kebutuhan rakyat menengah ke bawah, justru lebih banyak menjadi konsumsi kalangan atas dan warga asing.


Gedung Sarinah sendiri resmi berdiri pada 17 Agustus 1962 dan diresmikan pada 15 Agustus 1966. Dengan tinggi 74 meter dan 15 lantai, Sarinah menjadi bangunan pencakar langit pertama di Indonesia sekaligus pusat perbelanjaan modern perdana di Tanah Air.


Meski kini wajah dan fungsi Sarinah telah banyak berubah, gedung di Jalan MH Thamrin itu tetap menyimpan jejak sejarah dan amanat besar Bung Karno—tentang keberpihakan pada rakyat kecil—yang hingga kini masih relevan untuk direnungkan.(*)