lisensi

Jumat, 12 Desember 2025, Desember 12, 2025 WIB
Last Updated 2025-12-13T04:49:41Z
Siswa SDN 1 Margakaya Tewas

Siswi SDN 1 Margakaya Tewas Usai Pramuka, Keluarga Pertanyakan Versi Sekolah dan Siapkan Langkah Hukum

Advertisement

 


Pringsewu (Pikiran Lampung) – Kematian Aisyah Aqila Fazila Yusyah atau Zhee (12), siswi kelas VI SD Negeri 1 Margakaya, Kabupaten Pringsewu, saat mengikuti kegiatan Pramuka, berbuntut panjang. Keluarga korban memastikan akan menempuh jalur hukum apabila pihak sekolah tidak segera memberikan klarifikasi terbuka terkait insiden yang terjadi pada 22 November 2025 tersebut.


Zhee dilaporkan meninggal dunia setelah diduga terjatuh dari tebing saat kegiatan Pramuka yang melibatkan pencarian tumbuhan herbal. Dugaan tersebut kini menjadi sorotan keluarga korban, menyusul munculnya sejumlah kejanggalan dalam kronologi kejadian yang disampaikan pihak sekolah.


Ibu kandung korban, Nia, menegaskan bahwa hingga kini dirinya belum menerima penjelasan utuh dan dapat dipertanggungjawabkan dari pihak sekolah. Menurutnya, sikap diam pihak-pihak terkait justru memperkuat dugaan adanya informasi yang ditutupi.


“Iya, kalau sampai viral seperti ini pihak-pihak terkait masih saja diam, saya akan laporkan,” kata Nia kepada awak media, Jumat (12/12/2025).


Nia mengungkapkan, langkah hukum bukan sekadar ancaman. Ia mengaku telah mengantongi sejumlah bukti yang dinilai cukup kuat untuk membawa kasus ini ke ranah pidana. "Bukti-bukti kuat sudah saya pegang, A1 tegak lurus,” tegasnya.


Ia menyebutkan bahwa proses pelaporan ke aparat penegak hukum sebenarnya sudah disiapkan. Namun, pihak keluarga masih memberikan kesempatan terakhir kepada sekolah untuk memberikan klarifikasi resmi terkait peristiwa yang berujung pada kematian anaknya.

Menurut Nia, terdapat ketidaksesuaian mencolok antara keterangan awal pihak sekolah dengan fakta-fakta yang kemudian ia peroleh. Pihak sekolah, kata dia, sempat menyampaikan bahwa Zhee hanya mengalami kelelahan dan luka ringan usai kegiatan Pramuka.


Namun, hasil pemeriksaan medis menunjukkan kondisi korban jauh lebih serius. Berdasarkan rekam medis dari klinik tempat Zhee pertama kali mendapatkan perawatan, ditemukan dugaan pendarahan otak serta trauma pada organ dalam.


“Kalau hanya kelelahan dan luka ringan, tidak mungkin ada pendarahan otak dan trauma organ dalam,” ujar Nia.


Zhee diketahui menghembuskan napas terakhir sekitar 28 jam setelah kejadian. Rentang waktu tersebut dinilai keluarga sebagai fase krusial yang seharusnya mendapatkan penanganan medis dan pengawasan lebih intensif sejak awal.


Selain bukti medis, Nia juga mengaku telah mengumpulkan keterangan dari sejumlah teman korban yang ikut dalam kegiatan Pramuka. Keterangan para siswa tersebut, menurutnya, memperkuat dugaan bahwa insiden yang dialami Zhee tidak sesuai dengan narasi awal yang disampaikan pihak sekolah.


Kasus ini pun mengarah pada dugaan kelalaian dalam pelaksanaan kegiatan sekolah, termasuk aspek pengawasan dan keselamatan siswa saat berada di lokasi yang diduga memiliki risiko tinggi.


Meski tengah mempersiapkan langkah hukum, Nia mengaku masih diliputi duka mendalam atas kepergian putri tercintanya. "Saya masih sangat terpukul sampai sekarang. Zhee manggil saya mama. Saya kehilangan dia,” ucapnya.


Hingga berita ini diturunkan, pihak SDN 1 Margakaya Pringsewu belum memberikan pernyataan resmi atau klarifikasi terkait dugaan insiden tersebut. Upaya konfirmasi kepada pihak sekolah masih terus dilakukan, sementara publik menunggu langkah aparat penegak hukum dalam menindaklanjuti kasus yang kini menjadi perhatian luas ini.(Alung)