Advertisement
Bandar Lampung (Pikiran Lampung) – Upaya mendorong terciptanya sekolah yang bersih, sehat, dan ramah lingkungan terus dilakukan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung. Salah satunya melalui peluncuran sistem informasi digital bank sampah yang digelar di SMAN 1 Bandar Lampung, Senin, (26/01/2026).
Peluncuran program tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Thomas Amirico, S.STP., M.H. Kegiatan ini juga dirangkai dengan studium generale serta penyerahan sarana dan prasarana pengolahan sampah di lingkungan sekolah.
Thomas mengatakan, program bank sampah merupakan bagian dari langkah strategis mewujudkan sekolah hijau yang bersih, sehat, nyaman, serta berwawasan lingkungan. Menurutnya, kolaborasi dengan berbagai pihak menjadi kunci keberhasilan dalam pengelolaan sampah di satuan pendidikan.
“Jika sekolah ingin tumbuh dan melangkah lebih maju serta terbebas dari persoalan sampah, maka solusi terbaiknya adalah berkolaborasi. Salah satunya dengan Sahabat Gajah yang selama ini mendorong pengelolaan sampah secara bijak,” ujar Thomas.
Ia menjelaskan, bank sampah tidak sekadar berfokus pada kegiatan memilah dan memilih sampah, melainkan juga menjadi sarana edukasi bagi peserta didik untuk menanamkan kesadaran menjaga lingkungan. Selain itu, pengelolaan sampah yang baik dapat menghasilkan nilai tambah secara ekonomi.
“Dengan tata kelola sampah yang baik, sekolah akan menjadi bersih, sehat, dan nyaman. Bahkan, ada nilai ekonomi yang bisa didapatkan atau cuan, yang nantinya berguna untuk pengembangan sekolah ke arah yang lebih baik,” katanya.
Mantan Sekretaris DPRD Lampung Selatan itu menambahkan, saat ini terdapat lima satuan pendidikan di Kota Bandar Lampung yang telah diinisiasi Sahabat Gajah untuk melaksanakan program bank sampah, yakni SMAN 1, SMAN 2, SMAN 9, SMKN 1, dan SMKN 4.
Ia berharap, program ini mampu memberikan dampak positif dan dapat direplikasi di sekolah-sekolah lain. Dengan demikian, pengelolaan sampah di Kota Bandar Lampung dapat menjadi rujukan bagi daerah lain di Provinsi Lampung.
“Semoga program ini membawa energi positif dan bisa diimbaskan ke sekolah lainnya, sehingga tata kelola sampah di Bandar Lampung menjadi contoh bagi kabupaten dan kota se-Provinsi Lampung,” ujarnya.
Lebih lanjut, Thomas menilai persoalan sampah merupakan masalah klasik yang dihadapi masyarakat. Namun, jika dikelola secara tepat, sampah justru dapat memberikan keuntungan, salah satunya melalui daur ulang menjadi produk bernilai ekonomi.
“Sampah yang sebelumnya tidak bisa didaur ulang, sekarang bisa diolah menjadi ecobrick yang memiliki nilai ekonomis. Hasilnya dapat menjadi pemasukan bagi siswa maupun sekolah,” pungkasnya.(Bila)