Advertisement
Belajar Bahasa Lampung: Tiada Sekat Meski Berbeda Suku
Salah satu poin paling menarik adalah komitmen Dr. Zulkarnain untuk memfasilitasi pegawai yang bukan berasal dari suku Lampung agar tetap bisa berinteraksi menggunakan bahasa daerah.
"Kami sudah rapatkan, khusus bagi teman-teman yang bukan orang Lampung, akan kami adakan pembelajaran bahasa Lampung. Nanti ada guru khususnya dari staf kami sendiri," ujar Dr. Zulkarnain pada Media Harian Pikiran Lampung, di ruang kerjanya, Selasa (20/01/2026).
Ia menyadari bahwa Lampung memiliki keragaman dialek (Dialek A dan Dialek O), namun hal itu bukan hambatan. Contohnya, dalam suasana kerja nanti, seorang staf mungkin akan menyapa rekan sejawatnya dengan kalimat "Api kabar?" atau "Gatni gham?" sebagai bentuk penghormatan terhadap tanah tempat mereka mengabdi.
Identitas Visual Melalui Batik Khas Lampung
Tak hanya lewat lisan, identitas budaya ini juga akan diperkuat melalui pakaian. Dr. Zulkarnain merencanakan penggunaan batik khas Lampung sebagai seragam kerja jika anggaran telah tersedia.
Bayangkan suasana kantor yang penuh dengan motif Siger atau Pucuk Rebung yang elegan. Penggunaan batik ini diharapkan mampu menghidupkan ekosistem UMKM lokal sekaligus menumbuhkan rasa bangga saat mengenakan wastra asli daerah di hari Kamis.
Filosofi Nyeruit: Kebersamaan di Atas Segalanya
Keseriusan Kemenag Lampung dalam mengangkat budaya lokal sebenarnya sudah terlihat sejak peringatan Hari Amal Bhakti (HAB) lalu, di mana digelar lomba Nyeruit.
Nyeruit bukan sekadar makan bersama dengan sambal terasi dan ikan bakar, melainkan simbol persatuan. "Melalui lomba nyeruit, kita ingin mengangkat filosofi masyarakat Lampung yang sangat terbuka dan gemar menjalin silaturahmi. Kita harus mencintai budaya kita sendiri sebelum memperkenalkan ke orang lain," tambahnya.
Melalui program "Kamis Beradat" ini, Dr. Zulkarnain berharap seluruh jajaran Kemenag Lampung dapat menjadi duta budaya yang menjaga keluhuran adat Sai Bumi Ruwa Jurai dalam bingkai pengabdian kepada negara. (red)
