Advertisement
Bandar Lampung (Pikiran Lampung) – Pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan transfer kasih sayang. Prinsip inilah yang ditekankan oleh Kepala Kanwil Kemenag Lampung, Dr. H. Zulkarnain, S.Ag., M.Hum, saat menyoroti peran strategis Kelompok Kerja Guru (KKG) dalam meningkatkan kompetensi pendidik melalui pendekatan yang unik, yakni Kurikulum Cinta.
Dalam arahannya, Dr. Zulkarnain menjelaskan bahwa KKG bukan sekadar lembaga formal, melainkan wadah bagi para guru untuk mengasah kemahiran melalui berbagai pendidikan dan pelatihan. Inovasi terbaru yang tengah digalakkan adalah integrasi "Kurikulum Cinta" ke dalam metode pembelajaran yang sudah ada.
Membawa Esensi Cinta ke Ruang Kelas
Berbeda dengan anggapan umum, Kurikulum Cinta bukanlah mata pelajaran baru, melainkan sebuah metode untuk memasukkan esensi kasih sayang ke dalam setiap materi pelajaran.
"Kita bisa memasukkan esensi cinta bahkan ke dalam pelajaran matematika sekalipun. Misalnya, dengan mencontohkan menghitung jumlah tumbuh-tumbuhan," ujar Dr. Zulkarnain, pada Media Harian Pikiran Lampung, Selasa (20/01/2026).
Ia menambahkan bahwa konsep ini mengacu pada visi Menteri Agama mengenai unconditional love atau cinta tanpa syarat. Dalam dunia pendidikan, hal ini berarti guru memberikan dedikasi terbaiknya kepada siswa tanpa mengharap timbal balik, menciptakan lingkungan belajar yang tulus dan menenangkan.
Menghargai Perbedaan sebagai Sunatullah
Selain aspek kasih sayang, Kurikulum Cinta bertujuan menanamkan pemahaman mendalam kepada anak didik mengenai keberagaman. Siswa diajarkan untuk memahami bahwa perbedaan jenis kelamin, suku, hingga karakter adalah sunatullah—ketetapan Tuhan yang tidak bisa dihindari.
"Dengan memahami perbedaan sejak dini, anak-anak kita akan tumbuh menjadi pribadi yang toleran. Mereka akan melihat perbedaan bukan sebagai pemisah, melainkan sebagai kekayaan yang harus dihormati," tegasnya.
Melalui penguatan KKG dan penerapan Kurikulum Cinta ini, Kanwil Kemenag Lampung optimistis dapat melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kecerdasan emosional dan spiritual yang tinggi dalam bingkai moderasi beragama. (red)
