Advertisement
Bandar Lampung (Pikiran Lampung) – Isu kerusakan lingkungan kini bukan lagi sekadar masalah sains, melainkan urusan iman. Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Lampung, Dr. H. Zulkarnain, S.Ag., M.Hum, menegaskan pentingnya penguatan Ekoteologi, sebuah konsep di mana agama hadir sebagai benteng pertahanan alam semesta.
Menurut Dr. Zulkarnain, saat ini dunia tengah menghadapi berbagai bencana yang merupakan dampak langsung dari perilaku manusia yang tidak bertanggung jawab.
Agama Sebagai Solusi Krisis Alam
Ekoteologi lahir dari persepsi bahwa seluruh ajaran agama di dunia memiliki muatan yang sama: menciptakan kedamaian. Kedamaian ini tidak hanya terbatas pada hubungan antara manusia dengan Tuhan (Hablum Minallah) atau manusia dengan sesama (Hablum Minannas), tetapi juga hubungan manusia dengan alam semesta.
"Banyak musibah dan kerusakan di muka bumi ini terjadi karena 'tangan jahat' manusia. Penebangan liar yang memicu tanah longsor, hingga curah hujan tinggi yang berakhir banjir karena resapan yang hilang. Semua itu adalah peringatan bahwa keseimbangan alam telah terganggu," ujar Dr. Zulkarnain pada Media Harian Pikiran Lampung, Selasa (20/01/2026).
Ia menambahkan bahwa Menteri Agama telah menginstruksikan agar setiap pemeluk agama mampu menjaga ekosistem sebagai bentuk ibadah nyata.
Aksi Nyata: 1 Juta Pohon Matoa untuk Masa Depan
Sebagai langkah konkret, Kemenag Lampung akan mendukung penuh gerakan nasional penanaman 1 juta pohon Matoa yang dicanangkan oleh Kementerian Agama RI. Program ini bukan sekadar seremoni, melainkan upaya pemulihan lahan secara masif.
Dr. Zulkarnain memastikan bahwa seluruh Sumber Daya Manusia (SDM) di lingkungan Kemenag Lampung akan dikerahkan untuk memetakan wilayah-wilayah yang membutuhkan penghijauan.
"Kami akan bergerak mencari titik-titik tanah yang mulai tandus dan bukit-bukit yang gundul akibat penebangan. Kita akan menanam pohon secara serentak di sana. Apa yang kita tanam hari ini bukan sekadar pohon, melainkan nafas dan warisan untuk anak cucu kita di masa depan," tegasnya.
Menanam Kebaikan, Memanen Keberlanjutan
Melalui gerakan ekoteologi ini, Kemenag Lampung berharap agama bisa menjadi penggerak utama dalam menjaga kelestarian alam. Dengan menghijaukan kembali bumi Lampung, diharapkan keseimbangan ekosistem dapat pulih sehingga bencana alam dapat diminimalisir.
"Mari kita tunjukkan bahwa menjadi orang beragama berarti juga menjadi penjaga alam," tutup Dr. Zulkarnain. (red)
