Advertisement
Laporan Khas : Rahmadi Nugroho
Bandar Lampung (Pikiran Lampung) - Perbandingan sektor pariwisata antara Provinsi Lampung dan Daerah Istimewa Yogyakarta menunjukkan jurang yang begitu lebar. Jika dianalogikan, perbedaan pengelolaan pariwisata di kedua daerah tersebut ibarat Bumi dan Puncak Himalaya—sama-sama memiliki pesona alam dan budaya, namun berada pada ketinggian pengelolaan yang sangat berbeda.
Di Yogyakarta, destinasi wisata unggulan telah dikelola secara profesional dan terintegrasi. Kawasan Malioboro, Keraton Yogyakarta, Taman Sari, hingga Desa Wisata Kasongan dan Brayut menjadi contoh bagaimana wisata budaya dikemas rapi dengan dukungan infrastruktur, tata ruang, serta promosi yang konsisten. Sementara di sektor wisata alam, nama-nama seperti Pantai Parangtritis, Pantai Indrayanti, Gunung Merapi, Kaliurang, dan Tebing Breksi telah menjadi ikon nasional dengan fasilitas yang memadai dan akses yang nyaman.
Sebaliknya, Lampung juga memiliki deretan destinasi yang tak kalah indah secara alami. Pantai Mutun, Pantai Sari Ringgung, Pantai Gigi Hiu di Tanggamus, Teluk Kiluan dengan atraksi lumba-lumba, Pulau Pahawang, Pulau Tegal Mas, hingga Taman Nasional Way Kambas merupakan kekayaan wisata yang berpotensi besar. Namun, banyak lokasi tersebut masih terkendala akses jalan, minim fasilitas penunjang, serta pengelolaan yang belum optimal.
Dari sisi infrastruktur, kawasan Malioboro dan Keraton Yogyakarta dilengkapi trotoar ramah pejalan kaki, transportasi umum yang terintegrasi, papan informasi wisata yang jelas, serta area parkir tertata. Berbeda dengan sejumlah destinasi di Lampung yang masih menghadapi persoalan klasik, seperti jalan berlubang menuju Pantai Gigi Hiu atau keterbatasan fasilitas umum di Teluk Kiluan dan Way Kambas.
Aspek sumber daya manusia juga menjadi pembeda mencolok. Di Yogyakarta, pemandu wisata di kawasan Merapi, pengelola homestay di desa wisata, hingga pedagang di Malioboro telah dibekali standar pelayanan pariwisata. Sementara di Lampung, masih ditemukan destinasi wisata yang dikelola secara swadaya tanpa pelatihan memadai, sehingga pengalaman wisatawan kerap tidak maksimal.
Pengelolaan destinasi di Yogyakarta dilakukan secara berkelanjutan dengan konsep yang jelas. Tebing Breksi, misalnya, disulap dari bekas tambang menjadi destinasi wisata berkelas dengan tata kelola modern. Di Lampung, banyak destinasi alam indah seperti Pulau Pahawang dan Teluk Kiluan yang belum sepenuhnya dikembangkan dengan konsep serupa, meski memiliki daya tarik alam kelas dunia.
Perbandingan antara lokasi-lokasi wisata ini menunjukkan bahwa tantangan utama pariwisata Lampung bukan pada kekurangan potensi, melainkan pada lemahnya infrastruktur pendukung, kualitas SDM, serta pengelolaan destinasi yang profesional. Tanpa pembenahan serius, destinasi unggulan Lampung akan terus tertinggal dibandingkan Yogyakarta yang telah berhasil menjadikan pariwisata sebagai penggerak utama ekonomi daerah.(*)