Advertisement
Bandar Lampung (Pikiran Lampung) – Pemerintah Provinsi Lampung memastikan ketersediaan bahan pokok di wilayah setempat dalam kondisi aman menjelang dua perayaan besar, yakni Tahun Baru Imlek serta Bulan Suci Ramadhan hingga Idul Fitri 1447 Hijriah.
Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Lampung, Marindo Kurniawan, menegaskan bahwa pemerintah daerah telah melakukan berbagai langkah antisipasi untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga kebutuhan pokok di pasaran.
“Kami menjamin ketersediaan stok bahan pokok di Provinsi Lampung saat ini masih aman dalam menghadapi perayaan Tahun Baru Imlek, Bulan Suci Ramadhan, hingga Idul Fitri 1447 H. Pemerintah terus memantau pergerakan stok dan harga agar tetap stabil,” ujar Marindo Kurniawan.
Sementara itu, Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan Provinsi Lampung, Bani Ispriyanto, dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2025 yang dirangkaikan dengan Evaluasi Dukungan Pemerintah Daerah dalam Program 3 Juta Rumah, menyampaikan bahwa kondisi inflasi di Provinsi Lampung hingga saat ini masih dalam kategori terkendali.
Rapat koordinasi tersebut dilaksanakan secara virtual dari Ruang Command Center Lantai II Dinas Kominfotik Provinsi Lampung, Selasa (27/01/2026). “Secara umum, inflasi di Provinsi Lampung masih terkendali dengan baik. Stok bahan pokok juga relatif aman dan mencukupi kebutuhan masyarakat,” kata Bani.
Meski demikian, Bani mengingatkan adanya beberapa komoditas yang perlu diwaspadai pergerakan harganya, seperti cabai, bawang merah, telur, dan daging ayam. Menurutnya, hingga saat ini harga komoditas tersebut masih berada dalam batas yang wajar.
“Stok masih tersedia dengan baik. Hanya ada beberapa komoditas yang perlu kita waspadai seperti cabai, bawang merah, telur, dan daging ayam. Tetapi sampai saat ini, harganya masih relatif terkendali,” jelasnya.
Menanggapi harga telur ayam ras di sejumlah pasar yang mencapai Rp30.000 per kilogram, Bani menyebut kondisi tersebut masih fluktuatif dan belum melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET). “Harga telur di pasar itu fluktuatif, ada yang Rp25.000, Rp27.000, hingga Rp30.000 per kilogram. Harga Rp30.000 itu masih sesuai HET telur, jadi belum melebihi ketentuan,” ujarnya.
Ia menambahkan, perbedaan harga antar pasar dipengaruhi oleh faktor distribusi, terutama jarak tempuh pedagang kecil dari distributor. “Kemungkinan ada pengaruh biaya transportasi. Tapi karena tidak merata, saya kira masih dalam batas wajar dan tidak menjadi masalah,” katanya.
Terkait pakan ternak, Bani menegaskan bahwa pasokannya relatif tidak mengalami kendala. Namun, harga jagung sebagai bahan baku pakan masih terbilang tinggi di tingkat distributor dan pabrik, meskipun saat ini memasuki masa panen raya.
“Pakan ternak relatif tidak ada masalah, hanya memang harga jagung di tingkat distributor agak tinggi. Padahal saat ini sedang panen raya. Ini yang sedang kita telusuri penyebabnya,” pungkas Bani. (red)