Advertisement
Bandar Lampung (Pikiran Lampung) - Hujan deras yang mengguyur Kota Bandar Lampung pada Jumat (06/03/2026) sejak siang hingga sore hari kembali menyebabkan banjir di sejumlah titik.
Banjir ini merupakan terparah dan terbesar sepanjang 10 tahun terakhir. Dimana ada 8 kecamatan yang terdampak banjir. Tidak terhitung rumah warga yang tenggelam, mobil yang hanyut dan ada tiga korban jiwa termasuk anak –anak.
Hal ini lantas memunculkan tanggapan kecewa dari warga atas kinerja Walikota Bandarlampung Eva Dwiana.
Mayoritas warga menilai kinerja dan program walikota atas banjir gagal total.
“ Jelas kami sebagai warga Bandarlampung sangat kecewa dengan adanya banjir besar kemarin, kami menilai kinerja walikota Bandarlampung dalam mengatasi banjir gagal total, bahkan bisa dibilang hanyut dibawa air,”ujar Arsan M.Noor, Ketua Aliansa Tunas Lampung, Minggu (8/3).
Menurutnya, banjir ini bukan semata karena faktor cuaca dana alam, namun disebabkan program dari walikota untuk mengatasi banjir yang belum tetap sasaran.
Untuk itu, Menurut Arsan, walikota Bandarlampung dan jajaranya harus megkaji ulang dan menyiapkan program yang serius untuk mengatasi program Banjir di Bandarlampung.
Untuk diketahui, Genangan air merendam jalan dan permukiman warga di beberapa wilayah, sehingga mengganggu aktivitas masyarakat.
Salah satu lokasi yang terdampak berada di Jalan Pulau Singkep dan Jalan Pulau Sebesi, Kecamatan Sukarame, tepatnya di belakang Kampus UIN Raden Intan Lampung. Di kawasan yang dikenal sebagai daerah langganan banjir ini, air kembali menggenangi badan jalan dan halaman rumah warga.
Sejumlah warga mengaku kondisi tersebut sudah sering terjadi setiap kali hujan deras turun. Mereka bahkan mengaku pasrah karena hingga kini belum ada solusi yang dirasakan untuk mengatasi banjir di kawasan tersebut.
“Kalau hujan deras pasti banjir lagi. Sudah sering seperti ini, tapi sampai sekarang belum ada perubahan,” ujar salah seorang warga.
Warga lainnya juga menyampaikan kekecewaannya terhadap penanganan banjir yang dinilai belum maksimal. “Kami hanya bisa pasrah. Setiap hujan deras pasti was-was karena air cepat sekali naik,” katanya.
Selain di wilayah Sukarame, banjir juga terjadi di Kecamatan Enggal. Genangan air yang cukup tinggi membuat sejumlah kendaraan mogok setelah mencoba menerjang banjir di beberapa ruas jalan.
“Kendaraan banyak yang mogok karena memaksa lewat. Airnya cukup tinggi di beberapa titik,” kata seorang pengendara yang melintas di kawasan tersebut.
Sementara itu, banjir di Jalan Pangeran Antasari menyebabkan kemacetan arus lalu lintas hingga beberapa kilometer. Kemacetan dilaporkan mulai dari turunan flyover Jalan By Pass Soekarno-Hatta hingga menuju arah Pasar Tugu.
“Kendaraan harus jalan pelan karena air menutupi jalan. Akibatnya macet panjang,” ujar salah seorang pengendara.
Warga berharap pemerintah kota dapat segera mengambil langkah konkret dalam memperbaiki sistem drainase serta penanganan banjir, agar peristiwa serupa tidak terus berulang setiap kali hujan deras mengguyur Kota Bandar Lampung.(Rahmadi)