lisensi

Rabu, 11 Maret 2026, Maret 11, 2026 WIB
Last Updated 2026-03-12T06:56:45Z
Serba-Serbi Ramadan 1447 H

I’tikaf, Puncak Ibadah di Sepuluh Malam Terakhir Ramadan

Advertisement



Bandar Lampung (Pikiran Lampung) - Ramadan merupakan bulan yang penuh keberkahan, di mana setiap detiknya memiliki nilai ibadah yang sangat berharga. Memasuki sepuluh malam terakhir, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan kualitas ibadah. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan pada fase tersebut adalah i’tikaf, yaitu berdiam diri di masjid untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.


Secara istilah, para ulama mendefinisikan i’tikaf sebagai upaya seorang hamba untuk menetap di masjid dengan tujuan beribadah kepada Allah. Dalam kitab Fathul Qarib dijelaskan bahwa secara bahasa i’tikaf berarti menetapi sesuatu, baik dalam kebaikan maupun keburukan. Sedangkan secara syariat, i’tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan tata cara tertentu sebagai bentuk penghambaan kepada Allah.


Ibadah i’tikaf juga disebutkan secara langsung dalam Al-Qur’an, tepatnya dalam Surat Al-Baqarah ayat 187 yang menjelaskan tentang larangan melakukan hubungan suami istri ketika seseorang sedang beri’tikaf di masjid. Ayat tersebut menunjukkan bahwa i’tikaf merupakan ibadah yang memiliki kedudukan penting dalam syariat Islam.


Dalam praktiknya, Rasulullah SAW secara konsisten melaksanakan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan hingga beliau wafat. Bahkan setelah wafatnya Rasulullah, para istrinya tetap melanjutkan amalan tersebut. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim yang menerangkan bahwa Nabi senantiasa beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadan.


Para ulama sepakat bahwa i’tikaf bukanlah ibadah yang wajib, melainkan sunnah yang sangat dianjurkan atau sunnah muakkadah. Meski demikian, apabila seseorang telah bernazar atau berkomitmen untuk melaksanakan i’tikaf, maka ia wajib menunaikannya hingga selesai.


Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa i’tikaf merupakan salah satu bentuk ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah SWT. Amalan ini pernah dilaksanakan oleh Rasulullah, para sahabat, serta para istrinya. Namun seseorang yang khawatir tidak mampu memenuhi hak-hak i’tikaf, seperti menjaga adab dan konsistensi ibadah, dianjurkan untuk tidak memaksakan diri melaksanakannya.


Tujuan utama dari i’tikaf adalah membersihkan hati serta memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT. Selama menjalankan i’tikaf, seorang muslim dianjurkan memperbanyak shalat, membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, bershalawat, serta melakukan muhasabah atau introspeksi diri. Dengan menjauhkan diri dari kesibukan dunia, seseorang dapat memperoleh kejernihan hati dan ketenangan batin.


Dengan demikian, i’tikaf bukan sekadar berdiam diri di masjid, melainkan sarana untuk mengendalikan hawa nafsu serta memperkuat kedekatan dengan Sang Pencipta. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan dunia, i’tikaf menjadi momen istimewa bagi seorang hamba untuk kembali menata hati dan mengejar ridha Allah SWT.(*)