lisensi

Minggu, 29 Maret 2026, Maret 29, 2026 WIB
Last Updated 2026-03-30T06:07:16Z
EkonomiNasional

Masih Berat, Bahlil Terkesan Mengeluh, Dua Kapal Pertamina Belum Dapat 'Laluan' Dari Iran

Advertisement

 

Foto Ilustrasi. IST

Jakarta (Pikiran Lampung)- Hingga saat ini dua kapal tangker milik Pertamina masih tertahan di Selat Hormuz, dan belum dapat laluan alias ijin melintas dari Pemerintah Iran.

 

Terkait hal ini, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia terkesan mengeluh dan belum mampu untuk ‘membebaskan’ dua kapal tersebut dari Otoritas Iran.


Bahril mengaku masih terus bernegosiasi dengan otoritas terkait agar dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS) dapat melintasi Selat Hormuz secara aman.

 

Bahlil mengaku proses negosiasi yang berlangsung terbilang cukup berat, tetapi dia mengklaim bahwa proses komunikasi masih terus berlangsung.

 

“Kita masih komunikasi terus. Memang tidak mudah untuk kita bisa melakukan bagaimana caranya agar kapal kita keluar dari Selat Hormuz. Namun, komunikasi terus kita bangun,” kata Bahlil kepada awak media, di Kantor Kemenko Perekonomian, kemarin.

 

 

 

Dihubungi terpisah, Corporate Secretary PT Pertamina International Shipping (PIS) Vega Pita mengungkapkan dua tanker perseroan yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro masih berada di Teluk Persia.

 

Dengan begitu, hingga hari ini, Jumat (27/3/2026) dua tanker tersebut masih belum dapat melintasi Selat Hormuz.

 

 “Hingga 27 Maret 2026, dua kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS), yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, masih berada di Teluk Arab/Teluk Persia belum dapat melalui Selat Hormuz,” kata Vega kepada Bloomberg Technoz, Jumat (27/3/2026).

 

Dia menyatakan perseroan terus melakukan koordinasi dengan Kementerian Luar Energi untuk mengupayakan kedua tanker tersebut dapat segera melintasi Selat Hormuz dengan aman.

 

“Prioritas utama perusahaan adalah keselamatan awak kapal serta keamanan kapal dan muatan,” tegas Vega.

 

Adapun, PT Pertamina (Persero) mengungkapkan perseroan masih melakukan upaya negosiasi agar dua tanker tersebut dapat melewati jalur perdagangan minyak dan gas (migas) dunia di Selat Hormuz.

 

Langkah negosiasi tersebut terus dilakukan ketika sejumlah negara sudah diizinkan oleh otoritas setempat untuk melewati Selat Hormuz. Terbaru, tanker Malaysia hingga Thailand sudah berhasil melewati jalur nadi komoditas energi tersebut.

 

“Sampai saat ini posisi kapal milik Pertamina masih belum melintas Selat Hormuz dan kami terus monitor serta koordinasi dengan pihak berwenang,” kata Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron kepada Bloomberg Technoz, Jumat (27/3/2026) sebagaimana dikutif Senin (30/3/2026).

 

Baron mengungkapkan upaya negosiasi dan kendala yang dihadapi oleh seluruh negara memiliki kesamaan, di mana saat ini seluruh negara memandang terdapat risiko yang sangat tinggi untuk melewati Selat Hormuz.

 

Meskipun begitu, Baron memastikan Pertamina terus memonitor dan melakukan koordinasi dengan pihak terkait untuk mengatasi persoalan tersebut.

 

Sekadar informasi, Iran telah mengizinkan kapal-kapal Malaysia yang terjebak di Teluk Persia untuk kembali pulang melalui Selat Hormuz, kata perdana menteri negara Asia Tenggara tersebut dalam pidato yang disiarkan di televisi pada Kamis (26/3/2026) malam.

 

Jalur perairan sempit itu hampir sepenuhnya ditutup sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran dimulai hampir sebulan lalu, yang mengacaukan pasar energi global dan menjebak ratusan kapal tanker serta kapal lainnya.

 

Malaysia merupakan produsen minyak dan gas yang signifikan, tetapi juga mengimpor minyak mentah dari Timur Tengah dan sangat bergantung pada selat tersebut.

 

“Saya ingin mengambil kesempatan ini untuk mengucapkan terima kasih kepada presiden Iran karena telah memberikan izin melintas lebih awal,” kata Anwar Ibrahim.

 

“Kami sekarang sedang dalam proses mengamankan pembebasan kapal tanker minyak Malaysia dan para pekerja yang terlibat, agar mereka dapat melanjutkan perjalanan pulang.”

 

Di sisi lain, tanker milik Thailand yakni Bangchak Corporation Public Company Limited baru-baru ini juga sudah dapat melewati Selat Hormuz usai berlabuh di Teluk Persia sejak 11 Maret 2026.

 

“Kapal tanker tersebut saat ini sedang dalam perjalanan melintasi Samudra Hindia dan diperkirakan akan mengirimkan minyak mentah ke Thailand pada awal April,” tulis Bangchak Corporation dalam keterangan resminya.

 

Adapun, 2 kapal tanker tersebut yakni supertanker atau very large crude carrier (VLCC) Pertamina Pride dan Gamsunoro.

 

VLCC Pertamina Pride dioperasikan untuk memenuhi kebutuhan energi nasional, sedangkan Gamsunoro untuk melayani pihak ketiga (non-Pertamina).

 

Awalnya terdapat empat kapal PIS yang berada di kawasan Timur Tengah. Antara lain; Gamsunoro di Khor al Zubair, Irak, Pertamina Pride yang tengah melakukan proses muat di Ras Tanura, PIS Rinjani dalam posisi lego jangkar di Khor Fakkan, serta PIS Paragon di Oman.

 

Belakangan, PIS Paragon dan PIS Rinjani berhasil keluar dari wilayah konflik Timur Tengah, dan tengah melayani distribusi energi untuk mitra pihak ketiga.

 

Secara total, PIS saat ini mengoperasikan 345 kapal untuk mendukung kebutuhan energi dalam negeri.(**)