Advertisement
Bandarlampung (Pikiran Lampung) –Menandai satu tahun kepemimpinan Gubernur Rahmad Mirzani Djausal –Wagub Jihan Nurlela, Provinsi Lampung mengalami kondisi ekonomi kurang mengembirakan.
Dimana, pada bulan Februari atau tepat satu Tahun
kempemimpinan Mirza –Jihan, Provinsi Lampung mengalami inflasi.
Berdasarkan rilis
Badan Pusat Statistik (BPS), Provinsi Lampung pada Februari 2026 mengalami
inflasi 0,36% (yoy), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat
deflasi 0,07% (yoy).
Realisasi tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi
nasional yang sebesar 0,68% (yoy), namun lebih tinggi dibandingkan rata-rata
perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Lampung pada bulan Februari
dalam 3 (tiga) tahun terakhir yang mengalami deflasi 0,04% (yoy).
Dengan perkembangan tersebut, inflasi Provinsi Lampung secara tahunan sebesar 2,95% (yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 4,76% (yoy).
Dilihat dari sumbernya, inflasi Februari 2026
terutama didorong oleh kenaikan harga komoditas pada kelompok perawatan pribadi
dan jasa lainnya serta kelompok makanan, minuman, dan tembakau, yaitu emas
perhiasan, daging ayam ras, bawang merah, cabai rawit, dan tomat dengan andil
masing-masing sebesar 0,09%; 0,05%; 0,04%; 0,04%; dan 0,04% (mtm).
Kenaikan harga emas perhiasan sejalan dengan berlanjutnya
tren peningkatan harga emas dunia di tengah tingginya ketidakpastian global.
Sementara itu, kenaikan harga daging ayam ras dan komoditas hortikultura
dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan masyarakat menjelang Ramadan di tengah
terbatasnya pasokan, khususnya panen lokal yang tertunda untuk komoditas
hortikultura.
Di sisi lain, tekanan inflasi Februari 2026 tertahan oleh penurunan harga pada kelompok transportasi, khususnya bensin dengan andil sebesar -0,05% (mtm), seiring penyesuaian harga BBM nonsubsidi oleh PT Pertamina. Selain itu, beberapa komoditas lain yang turut menahan inflasi adalah susu cair kemasan, kangkung, hand body lotion, dan wortel dengan andil masing-masing sebesar -0,01% (mtm).
Ke depan, KPw BI Provinsi Lampung
memprakirakan bahwa inflasi di Provinsi Lampung akan tetap terjaga pada rentang
sasaran inflasi 2,5±1% (yoy) pada akhir tahun 2026. Namun demikian, beberapa
risiko perlu tetap diwaspadai dan dimitigasi.
Dari sisi Inflasi Inti (Core Inflation), risiko bersumber
dari
peningkatan permintaan agregat sebagai dampak penyesuaian UMP yang direalisasikan secara bertahap sepanjang tahun serta meningkatnya mobilitas masyarakat pada momentum Ramadan dan HBKN Idulfitri 1447 H;
Dan berlanjutnya kenaikan harga emas dunia di tengah masih tingginya ketidakpastian global seiring pecahnya konflik terbuka antara Amerika Serikat–Israel dengan Iran, yang mendorong peningkatan permintaan aset safe haven dan volatilitas pasar keuangan global.
Selanjutnya dari sisi Inflasi Bahan Makanan Bergejolak
(Volatile Food), risiko yang perlu dicermati meliputi
peningkatan curah hujan dan risiko banjir lokal yang
berpotensi menghambat realisasi panen padi serta distribusi pangan, sejalan
dengan prakiraan berlanjutnya La Nina lemah hingga awal tahun 2026;
potensi peningkatan harga komoditas pangan strategis pada periode high season Ramadan dan HBKN Idulfitri 1447 H; serta potensi gangguan pasokan dan distribusi komoditas pangan ke Provinsi Lampung sebagai dampak meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi di sejumlah wilayah Sumatera yang dapat menghambat kelancaran arus logistik antarwilayah.
Adapun dari sisi Inflasi Harga yang Diatur Pemerintah (Administered Prices), risiko yang perlu dicermati semakin meningkat seiring eskalasi konflik militer di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi global, khususnya apabila terjadi disrupsi pada jalur strategis perdagangan minyak dunia seperti Selat Hormuz, sehingga mendorong kenaikan harga minyak mentah global dan meningkatkan premi risiko geopolitik di pasar energi.
Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap harga BBM
non-subsidi, tarif transportasi, serta biaya logistik dan distribusi domestik,
di tengah normalisasi tarif angkutan darat dan laut pasca berakhirnya diskon
tarif angkutan serta insentif PPN DTP untuk angkutan udara pada periode HBKN.
Meninjau perkembangan inflasi Februari dan
mempertimbangkan peningkatan risiko global dan domestik, Bank Indonesia dan
TPID Provinsi Lampung terus memperkuat pengendalian inflasi melalui strategi 4K
sebagai berikut:
1. Keterjangkauan
Harga
a. Melaksanakan
operasi pasar beras/SPHP secara terarah dan targeted.
b. Memperkuat
monitoring harga dan pasokan komoditas strategis (beras, cabai, bawang, daging
sapi, serta daging dan telur ayam ras), termasuk antisipasi dampak kenaikan
biaya distribusi akibat volatilitas energi global.
2. Ketersediaan
Pasokan
a. Memperluas implementasi Toko Pengendalian Inflasi di
seluruh wilayah IHK dan Non-IHK.
b. Memperkuat kerja
sama antar daerah (KAD) antarprovinsi maupun intraprovinsi untuk komoditas
defisit dan berisiko defisit dengan sentra produksi.
c. Memperkuat
koordinasi antar OPD terkait guna mempercepat realisasi program swasembada
pangan di Provinsi Lampung melalui optimalisasi lahan, penggunaan varietas
unggul, bantuan alsintan, serta memastikan kelancaran distribusi pupuk
bersubsidi secara tepat guna dan tepat sasaran.
d. Memperkuat data pasokan guna meningkatkan efektivitas
monitoring ketersediaan pasokan
3. Kelancaran
Distribusi
a. Memastikan kecukupan moda transportasi guna menjaga
kelancaran arus barang dan manusia menjelang HBKN.
b. Mengantisipasi
potensi kenaikan biaya logistik akibat volatilitas harga BBM global.
c. Memperkuat kapasitas transportasi melalui penambahan
volume penerbangan Lampung–Jakarta serta reaktivasi rute Lampung–Bali dan
Lampung–Jogja.
d. Melanjutkan perbaikan infrastruktur jalur distribusi
pangan.
e. Memperkuat implementasi Mobil TOP (Transportasi Operasi
Pasar) dan dukungan Subsidi Ongkos Angkut (SOA) bersama OPD dan Bulog
4. Komunikasi efektif
a. Melakukan rapat koordinasi rutin TPID Provinsi dan
Kabupaten/Kota dalam rangka menjaga awareness terkait dinamika harga dan
pasokan terkini.
b. Menjaga
ekspektasi inflasi melalui komunikasi publik yang konsisten di tengah
ketidakpastian global
. c. Memperkuat sistem informasi neraca pangan melalui
integrasi data pangan yang terkini dan berkualitas guna mendukung pengambilan
kebijakan pengendalian harga yang tepat.
d. Memanfaatkan media digital untuk menyampaikan informasi
terkini mengenai inflasi di Provinsi Lampung. (tim)