Advertisement
Jakarta (Pikiran Lampung) – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memprioritaskan pemberian vaksin campak kepada ratusan ribu tenaga kesehatan (nakes) di wilayah dengan kasus tertinggi. Langkah ini diambil sebagai upaya melindungi kelompok dewasa yang rentan tertular di tengah meningkatnya kasus campak di sejumlah daerah.
Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes, Lucia Rizka Andalusia, menyebutkan bahwa program ini menyasar 39.212 tenaga medis dan 223.150 tenaga kesehatan di 14 daerah prioritas.
“Selain itu, juga ditambah dengan 28.321 dokter umum dan dokter gigi yang sedang menjalani internship di seluruh Indonesia,” ujar Lucia, Rabu (7/4/2026).
Ia menjelaskan, vaksin campak selama ini diwajibkan bagi anak-anak dengan tiga kali pemberian, yakni pada usia 9 bulan, 18 bulan, serta booster saat duduk di kelas 1 SD. Namun, dengan adanya peningkatan kasus atau Kejadian Luar Biasa (KLB), pemerintah melakukan Outbreak Response Immunization (ORI) di wilayah terdampak.
Menurut Lucia, tenaga kesehatan menjadi kelompok berisiko tinggi karena intensitas kontak langsung dengan pasien.
“Dengan adanya KLB ini, potensi penularan kepada nakes sangat tinggi, terutama mereka yang berada di garis depan pelayanan kesehatan,” jelasnya.
Sebagai langkah lanjutan, Kemenkes mengapresiasi Badan Pengawas Obat dan Makanan yang telah memberikan izin perluasan indikasi vaksin campak produksi Bio Farma untuk orang dewasa. Hal ini memungkinkan pelaksanaan vaksinasi bagi nakes dapat segera dilakukan.
Saat ini, ketersediaan vaksin MR untuk program pemerintah mencapai sekitar 9,8 juta dosis di seluruh Indonesia, dengan estimasi ketahanan stok sekitar 5,5 bulan.
Kemenkes juga memastikan pemantauan distribusi dan kualitas vaksin dilakukan secara real-time melalui Sistem Monitoring Imunisasi dan Logistik secara Elektronik (SMILE), mulai dari tingkat provinsi hingga fasilitas kesehatan seperti puskesmas.
Dalam pelaksanaannya, Kemenkes akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk mempercepat vaksinasi, khususnya bagi tenaga kesehatan di wilayah prioritas.
Lucia menambahkan, imunisasi campak yang diberikan sejak dini seharusnya mampu memberikan perlindungan jangka panjang. Namun, masih ditemukan anak-anak yang belum melengkapi vaksinasi.
Karena itu, ia mengimbau para orang tua untuk memastikan anak mendapatkan imunisasi lengkap sesuai jadwal.
“Jangan menunggu anak sakit. Segera lengkapi imunisasi agar terlindungi dengan optimal,” tegasnya.
Adapun daerah yang menjadi fokus pemantauan karena tingginya kasus campak antara lain DKI Jakarta (Jakarta Barat, Jakarta Pusat dan sekitarnya), Tangerang (kota/kabupaten), Tangerang Selatan, Jawa Barat, Depok, Serang, Bima, Palembang, Palu, Pandeglang, Kalimantan Selatan, Sumatera Utara, Klaten, dan Cilacap.(*)