Advertisement
| Gambar ilustrasi dengan Metode AI. oleh Shane Anju Pikiran Lampung |
Bandarlampung (Pikiran Lampung)- Pemprov Lampung, di bawah Komando Langsung Gubernur Rahmat Mirzani Djausal dan wagub Jihan yang didukung oleh Sekdaprov Marindo Kurniawa meluncurkan prigram mulia Kamis Beradat, Yakni, wajib berbahasa dan memakai Batik Lampung setiap hari Kamis.
Namun, kini program tersebut seperti iklan mobil pada tahun 90 an, nyaris tak terdengar. Waduhhh...Nyo caro ejow Kedah yai??
Seperti pada dinasti sebelumnya, Program Pemprov Lampung Kamis Beradat saat ini seperti hilang dan mulai dilupakan.
Baik oleh para 'big bos' di lingkungan Pemprov Lampung, para pegawai maupun para warga di Provisi berjuluk Sai Bumi Ruwa Jurai itu sendiri.
Berkaca dari salah satu syair Lagu Lampung Menggala, Program Kamis Beradat seperti 'Tanyuk Di Way Deres'. Atau hilang dan hanyut terbawa di pusaran air yang deras.
Pantauan Pikiran Lampung di beberapa OPD atau dinas, Prigram ini nyaris hilang dan tidak lagi menggema setiap hari Kamis.
Para petinggi OPD hingga staf pegawai seakan tidak memperdulikan lagi, jika setipa hari Kamis wajib berbahasa Lampung dan berbatik Lampung di lingkungan Pemprov Lampung, sekolah serta instansi vertikal.
Tidak terdengar saling sapa dalam bahasa Lamung, dialeg O atau i atau Lampung 'Cadang' alias bahasa campuran. Sekalipun itu saling canda seperti saat sedang hangat -hangatnya program Kamis Beradat pertama diluncurkan.
Setali tiga uang dengan OPD dan lingkungan kantor lainya, di pusat pemerintahan alias kantor Gubernur Lampung, program ini juga mulai melemah atau kata orang Menggala 'kek Melap dibo aingin'.
Tiada ada walau formalitas para pejabat saling say helo dalam bahasa Lampung, walaupun cuma kata 'nyo kabar atau niku radu mengan kudo'
Semuanya, seakan kembali ke setelan awal berbahasa Indonesia gaya Jakarta, alias lo gua bokek. Padahal awalnya, program ini menggema bak air bendungan marga tiga, semua ingin mengaku Lampung dan terlihat seperti orang Lampung.
Namun kini, semua melepes seperti sekubal terkena way sesam. Tidak seperti Batu belah yang walau terkena batu semakin keras.
Semoga denga tulisan singkat ini, Program mulia Gubernur Mirza dan Wagub Jihan yang didukung sekdaprov Marindo ini bisa kembali ke setelan awal. Hal ini supaya Bahasa dan Budaya Lampung terus bisa dilestarikan dan jadi warisan Budaya Indonesia.
Bisa jadi 'Kuwaiyan di way sayan, tidak 'tanyuk di way deres. Tabik Pun..(CEO)