lisensi

Rabu, 13 Mei 2026, Mei 13, 2026 WIB
Last Updated 2026-05-13T07:15:40Z
Kadisdikbud Lampung Thomas AmiricoPendidikan

Kadisdikbud Thomas Amirico Tekankan Pentingnya Ketahanan Ideologi Generasi Muda Cegah Radikalisme

Advertisement



Bandar Lampung (Pikiran Lampung) – Upaya memperkuat ketahanan ideologi generasi muda terus dilakukan melalui kolaborasi lintas lembaga. Densus 88 Antiteror Polri bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung menggelar sosialisasi wawasan kebangsaan bagi siswa SMA se-Provinsi Lampung sebagai langkah strategis mencegah penyebaran paham intoleransi, radikalisme, dan terorisme di lingkungan pelajar, Rabu (13/5/2026).


Kegiatan edukatif tersebut menghadirkan jajaran Satgaswil Lampung, kepala sekolah, dewan guru, pengurus OSIS, akademisi, hingga mantan narapidana terorisme yang memberikan perspektif langsung kepada para siswa mengenai bahaya ideologi kekerasan.


Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Thomas Amirico, menegaskan dunia pendidikan saat ini berada di garis terdepan dalam menjaga ketahanan nasional, terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.


Menurutnya, ruang digital telah menjadi salah satu jalur utama masuknya ideologi transnasional yang menyasar generasi muda melalui media sosial maupun lingkungan pergaulan.

“Sekolah harus menjadi zona integritas yang aman, inklusif, dan steril dari benih-benih kebencian maupun eksklusivisme,” tegas Thomas.


Ia menambahkan, pendidikan tidak hanya bertugas mencetak siswa berprestasi secara akademik, tetapi juga membangun karakter kebangsaan yang kuat sebagai fondasi masa depan Indonesia.


Sementara itu, Kasatgaswil Lampung Densus 88 Antiteror Polri, Stialanri Kurniawan Setinggar, mengingatkan pentingnya menjaga nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi negara di tengah derasnya arus informasi global.


Menurutnya, generasi muda memiliki posisi strategis sebagai penjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Pelajar harus menjadi generasi yang cerdas, kritis, dan tidak mudah terpengaruh propaganda yang berupaya menggantikan ideologi Pancasila,” ujarnya.


Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Provinsi Lampung, Suharto, menekankan bahwa sekolah merupakan benteng utama dalam pembentukan karakter bangsa.


Ia menyebut wawasan kebangsaan sebagai “imun ideologis” yang mampu melindungi pelajar dari pengaruh negatif, termasuk intoleransi dan radikalisme.

“Jika nilai kebangsaan tertanam kuat, maka virus kebencian tidak akan mudah masuk ke dalam diri pelajar,” katanya.


Suharto juga mengingatkan bahwa Lampung merupakan miniatur Indonesia yang kaya keberagaman suku, budaya, dan agama sehingga nilai toleransi harus terus ditanamkan sejak dini.


Materi sosialisasi turut disampaikan oleh narasumber Sumarna yang menguraikan tahapan berkembangnya paham terorisme, mulai dari intoleransi, radikalisme, hingga berujung pada tindakan teror.


Ia menjelaskan kelompok radikal kerap memanfaatkan isu agama, sosial, maupun politik untuk merekrut anggota baru, terutama dari kalangan muda yang sedang mencari jati diri.

“Penyebaran paham radikal kini tidak lagi terbatas pada pertemuan fisik, tetapi juga melalui media sosial, pergaulan, lingkungan pendidikan, bahkan relasi keluarga,” jelasnya.


Sebagai penguatan materi, kegiatan ini juga menghadirkan mantan narapidana terorisme asal Lampung, Meilani Indra Dewi, yang membagikan pengalaman nyata perjalanan hidupnya.


Dalam kesaksiannya, ia mengungkap perilaku negatif seperti bullying, tawuran, hingga perasaan terasing sering menjadi pintu masuk bagi kelompok radikal untuk mendekati anak muda.

“Kelompok radikal sering menawarkan rasa diterima dan persaudaraan semu kepada mereka yang merasa tersisih,” ungkapnya di hadapan para siswa.


Ia pun mengajak pelajar untuk menjaga semangat toleransi, memperkuat persatuan, serta tidak mudah terpengaruh ajaran yang berpotensi memecah belah bangsa.


Melalui sosialisasi wawasan kebangsaan tersebut, diharapkan pelajar di Provinsi Lampung memiliki ketahanan ideologi yang kuat, mampu berpikir kritis di era digital, serta menjadi agen perdamaian yang menjaga persatuan dan keutuhan bangsa sejak dari lingkungan sekolah.(bila)