Advertisement
Bandar Lampung (Pikiran Lampung) - Ajang Pemilihan Duta Bahasa Provinsi Lampung 2026 tidak hanya menjadi arena kompetisi bagi generasi muda, tetapi juga ruang penguatan literasi, pelestarian bahasa daerah, hingga lahirnya inovasi berbasis teknologi untuk menjaga keberlangsungan budaya lokal di era digital.
Hal tersebut mengemuka dalam Puncak Penganugerahan Pemilihan Duta Bahasa Provinsi Lampung 2026 yang digelar di Balai Keratun Lantai III, Komplek Kantor Gubernur Lampung, Sabtu (23/05/2026).
Dalam kesempatan itu, Pemerintah Provinsi Lampung menegaskan dukungannya terhadap pembinaan bahasa, sastra, dan literasi sebagai bagian dari pembangunan kualitas sumber daya manusia.
Komitmen tersebut disampaikan Gubernur Lampung melalui sambutan tertulis yang dibacakan Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Kominfotik) Provinsi Lampung, Ganjar Jationo.
“Pemerintah Provinsi Lampung mendukung penuh berbagai upaya pembinaan bahasa, sastra, dan literasi kepada generasi muda. Sebab membangun daerah bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga membangun kualitas manusia, cara berpikir, serta budaya berkomunikasi masyarakatnya,” kata Ganjar saat membacakan sambutan gubernur.
Menurut gubernur, Pemilihan Duta Bahasa bukan sekadar ajang menampilkan kemampuan berbicara maupun penampilan peserta. Kegiatan tersebut dinilai menjadi wadah mencetak generasi muda yang mampu menjadi mitra Balai Bahasa dalam mengampanyekan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, sekaligus menjaga eksistensi bahasa daerah sebagai identitas budaya masyarakat Lampung.
Peran generasi muda juga dinilai semakin strategis di tengah perkembangan ruang digital. Gubernur menilai bahasa yang digunakan anak muda, khususnya di media sosial, memiliki pengaruh besar terhadap pola komunikasi masyarakat.
“Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga mencerminkan karakter, etika, sistem nilai, dan kualitas suatu generasi bangsa,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar perkembangan tren bahasa digital tidak menggeser keberadaan bahasa daerah. Menurutnya, Lampung memiliki kekayaan budaya dan bahasa yang perlu dijaga, termasuk keberadaan aksara Lampung yang dapat menjadi fondasi pengembangan literasi.
“Lampung memiliki kekayaan bahasa dan budaya yang luar biasa. Lampung juga menjadi salah satu daerah yang memiliki sistem aksara sendiri yang dapat menjadi pondasi pengembangan literasi,” katanya.
Gubernur berharap para finalis Duta Bahasa dapat menjadi teladan bagi generasi muda dalam mengampanyekan literasi serta membangun komunikasi yang positif dan santun, baik di lingkungan pendidikan maupun ruang digital.
Sementara itu, Kepala Dinas Kominfotik Provinsi Lampung Ganjar Jationo menilai pelestarian bahasa daerah kini menghadapi tantangan baru seiring pesatnya perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI).
Menurutnya, berkurangnya jumlah penutur menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan bahasa daerah sehingga diperlukan langkah pelestarian yang adaptif terhadap teknologi.
“Kalau tidak dimasukkan ke dalam AI dan tidak familiar dengan teknologi digital, bahasa daerah hanya akan dituturkan secara offline. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama agar bahasa Lampung tetap hidup di ruang digital,” ujarnya.
Ganjar bahkan mendorong para finalis Duta Bahasa ikut mengembangkan kamus AI bahasa Lampung dalam dua dialek sebagai inovasi pelestarian budaya berbasis teknologi.
Kasubag Umum Balai Bahasa Provinsi Lampung, Rima Ulfayanti, mengatakan Pemilihan Duta Bahasa menjadi wadah lahirnya generasi muda yang memiliki kepedulian terhadap bahasa, sastra, dan literasi.
“Kami percaya seluruh finalis adalah anak-anak muda terbaik yang memiliki semangat menjaga martabat bahasa Indonesia, mencintai bahasa daerah, serta menguasai bahasa asing sebagai jendela dunia,” ujarnya.
Ia berharap para Duta Bahasa dapat menjadi mitra aktif Balai Bahasa dalam menyebarluaskan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta menjadi penggerak literasi di masyarakat.
Di sisi lain, Ketua Pelaksana Pemilihan Duta Bahasa Provinsi Lampung 2026, Hasnawati Nasution, menjelaskan seleksi tahun ini berlangsung melalui lima tahapan dengan persaingan cukup ketat.
Sebanyak 189 peserta dinyatakan lolos seleksi administrasi. Dari jumlah tersebut, 76 peserta berhasil melewati Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) dengan predikat minimal unggul sebelum akhirnya terpilih 20 finalis terbaik yang mengikuti tahap krida duta bahasa.
Berbagai inovasi turut ditampilkan para finalis, mulai dari permainan edukatif aksara Lampung, pemanfaatan Meta AI WhatsApp sebagai kamus bahasa Lampung dan media informasi budaya, hingga kartu aksara Lampung untuk penyandang tunanetra.
“Peserta terbaik 1 putra dan putri nantinya akan mewakili Provinsi Lampung pada ajang Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional,” kata Hasnawati.(bila)