Advertisement
Bandar Lampung (Pikiran Lampung) - Gangguan pendengaran pada anak sering kali luput dari perhatian, padahal dampaknya dapat berlangsung seumur hidup. Tanpa deteksi dini, seorang anak berisiko mengalami keterlambatan bicara, kesulitan belajar, hingga hambatan dalam perkembangan sosial dan emosional.
Deteksi dini gangguan pendengaran pada anak-anak, khususnya usia sekolah dasar (SD), menjadi langkah krusial dalam meningkatkan kualitas kesehatan dan masa depan generasiIndonesia.
Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO), lebih dari 430 juta orang didunia mengalami gangguan pendengaran yang memerlukan rehabilitasi, dan jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat. WHO juga menyebutkan bahwa sekitar 60% gangguan pendengaran pada anak sebenarnya dapat dicegah melalui upaya kesehatan masyarakat
dan deteksi dini.
Di Indonesia, masalah ini juga tidak bisa dianggap sepele. Data Riskesdas Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa gangguan pendengaran masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang cukup banyak ditemukan pada anak usia sekolah, yang berpotensi memengaruhi prestasi belajar dan perkembangan mereka.
Gangguan pendengaran yang tidak terdeteksi sejak dini dapat berdampak pada keterlambatan perkembangan bahasa, kesulitan belajar, hingga menurunnya kualitas hidup anak. Kondisi ini sering kali tidak disadari karena gejalanya dianggap sepele, seperti anak kurang fokus atau lambat merespons.
Deteksi dini menjadi kunci utama dalam upaya pencegahan dampak jangka panjang tersebut. Dengan melakukan skrining sejak usia sekolah, gangguan pendengaran dapat segera diidentifikasi dan ditindaklanjuti dengan penanganan yang tepat.
Deteksi dini gangguan pendengaran pada anak sekolah dasar dapat dilakukan melalui metode sederhana yang praktis dan mudah diterapkan di lingkungan sekolah. Salah satunya adalah tes bisik (whisper test), di mana anak diminta mengulangi kata yang dibisikkan dari jarak tertentu untuk menilai kemampuan mendengar.
Selain itu, dapat dilakukan tes respons suara, yaitu mengamati apakah anak mampu merespons suara dengan baik, seperti panggilan dari arah tertentu atau instruksi sederhana. Guru juga dapat melakukan observasi terhadap perilaku anak di kelas, misalnya anak yang sering meminta pengulangan, terlihat tidak fokus, atau kesulitan mengikuti pelajaran.
Untuk hasil yang lebih akurat, sekolah dapat bekerja sama dengan tenaga kesehatan dalam melakukan pemeriksaan lanjutan menggunakan alat seperti audiometri sederhana atau skrining pendengaran berbasis aplikasi yang kini mulai berkembang dan mudah digunakan.
Promosi kesehatan mengenai pentingnya deteksi dini pendengaran perlu ditingkatkan secara masif, terutama di lingkungan sekolah dan keluarga. Edukasi dapat dilakukan melalui kegiatan seperti penyuluhan kesehatan di sekolah, pembagian leaflet, serta kampanye melalui media sosial yang mudah diakses oleh orang tua dan guru.(*/dr. Winendy Deo Haryanto)