lisensi

Senin, 11 Mei 2026, Mei 11, 2026 WIB
Last Updated 2026-05-12T03:00:41Z
IteraPendidikan

Itera – Pemprov Lampung Kolaborasi Pengembangan Teknologi Dukung Program Desaku Maju

Advertisement


Bandar Lampung (Pikiran Lampung)Institut Teknologi Sumatera berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Lampung melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Lampung untuk mendukung program Desaku Maju yang akan diterapkan pada 30 desa di Lampung. Program tersebut menjadi upaya membangun ekonomi desa berbasis hilirisasi komoditas unggulan daerah melalui pengembangan teknologi tepat guna dan penyusunan proses bisnis berbasis ekonomi lokal.


Kolaborasi itu dibahas dalam pertemuan antara Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Umum Itera Ir. Arif Rohman, S.T., M.T., bersama tim dosen dengan Kepala Bappeda Provinsi Lampung Dr. Anang Risgiyanto, S.KM., M.Kes., di Kantor Bappeda Provinsi Lampung, Senin (11/5/2026).


Kepala Bappeda Provinsi Lampung Dr. Anang Risgiyanto mengatakan program Desaku Maju menjadi strategi pemerintah daerah dalam memperkuat ekonomi desa melalui hilirisasi komoditas unggulan dan kemitraan multipihak. Menurutnya, Lampung memiliki potensi besar pada sektor pertanian seperti singkong, padi, dan jagung, namun selama ini hasil panen masih banyak dijual dalam bentuk bahan mentah sehingga nilai ekonomi yang diterima masyarakat desa belum optimal.


“Substansi program ini adalah menghilirisasi produk unggulan desa. Tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi menghasilkan produk bernilai ekonomi lebih tinggi,” ujar Anang.


Dalam program tersebut, Itera akan melakukan analisis kewilayahan dan identifikasi proses bisnis untuk memetakan potensi unggulan desa. Hasil identifikasi nantinya digunakan untuk menentukan kebutuhan teknologi dan peralatan yang tepat, termasuk pemanfaatan inovasi dan alat karya sivitas akademika Itera yang telah dipatenkan.


Anang mencontohkan komoditas singkong yang selama ini lebih banyak dipasarkan ke pabrik tanpa pengolahan lanjutan di tingkat desa. Kondisi itu membuat keuntungan ekonomi yang diterima petani masih terbatas. Karena itu, pengembangan teknologi dinilai menjadi kunci untuk mendukung proses hilirisasi produk desa.


“Kalau membeli alat jadi, sering kali muncul persoalan karena tidak sesuai kebutuhan di lapangan. Itera paling memahami bagaimana mengembangkan teknologi sesuai keunggulan masing-masing desa,” katanya.


Selain pengembangan alat, Itera juga dinilai memiliki kemampuan dalam merancang model bisnis berbasis potensi wilayah sehingga program hilirisasi tidak berhenti pada penyediaan teknologi semata.


Salah satu contoh penerapan program tersebut telah dilakukan di Desa Wonomarto, Kabupaten Lampung Utara. Desa percontohan itu memanfaatkan teknologi dryer atau alat pengering berkapasitas 20 ton untuk mendukung pengolahan hasil pertanian. Pemerintah Provinsi Lampung memperkirakan kebutuhan alat pengering di daerah mencapai sekitar 150 unit, sementara ketersediaannya saat ini masih terbatas.


Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Umum Itera Ir. Arif Rohman, S.T., M.T., mengatakan Itera telah memiliki pengalaman membina sejumlah desa sejak 2016. Dalam program Desaku Maju, pihaknya akan fokus melakukan pemetaan potensi wilayah dan penyusunan proses bisnis agar teknologi yang diterapkan benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat desa.


“Melalui kolaborasi ini, diharapkan desa-desa di Lampung mampu berkembang menjadi desa mandiri berbasis inovasi teknologi dengan kekuatan ekonomi lokal yang lebih berdaya saing,” ujar Arif.(shine anju)