Advertisement
Bandarlampung, Lampung (Pikiran Lampun) - Sekdaprov Marindo Kurniawan memastikan saat ini program untuk meningkatkan kesejateraan petani di Lampung, terus berjalan.
" Ya sesuai dengan arahan serta program bapak Gubernur Rahmat Mirzani Djausal serta ibu wagub Jihan, program untuk peningkatan kesejateraan petani di Lampung saat ini terus dilakukan oleh Pemprov Lampung," jelas Marindo, Selasa (2/5/2026).
Hal ini sejalan dengan Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung yang menyatakan bahwa, nilai tukar petani (NTP) di Provinsi Lampung pada Mei 2026 mengalami kenaikan sebesar 3,29 persen dibandingkan April 2026.
"Nilai tukar petani Provinsi Lampung Mei 2026 sebesar
128,01 atau naik 3,29 persen dibanding nilai tukar petani di bulan sebelumnya yakni
sebesar 123,93," ujar Statistisi Ahli Muda BPS Lampung M Sabiel Adi
Prakasa, dalam keterangannya secara daring di Bandarlampung, Lampung, Selasa
(2/6).
Ia mengatakan kenaikan tersebut didorong oleh menguatnya
indeks harga yang diterima petani (It) sebesar 4,35 persen menjadi 165,36,
sementara indeks harga yang dibayar petani (Ib) hanya mengalami kenaikan
sebesar 1,02 persen menjadi 129,18.
"Nilai tukar petani ini merupakan indikator yang
membandingkan antara indeks harga yang diterima petani atas hasil produksinya
dengan indeks harga yang dibayar petani dalam memenuhi kebutuhan
sehari-harinya. Komoditas utama yang turut mendorong peningkatan indeks harga
terima petani antara lain tomat, cabai merah, dan sawi hijau. Selain itu
komoditas sejenis seperti cabai merah, tomat, dan sawi hijau juga menjadi
pendorong utama pada kenaikan indeks harga bayar petani dari sisi konsumsi
rumah tangga," katanya.
Dia melanjutkan jika dirinci menurut subsektor, kenaikan
nilai tukar petani secara bulanan didominasi oleh subsektor hortikultura yang
mengalami peningkatan sebesar 17,58 persen yakni dari 117,08 menjadi 137,67.
"Kenaikan positif juga diikuti oleh subsektor tanaman
perkebunan rakyat yang naik sebesar 3,95 persen menjadi 159,03, subsektor
peternakan naik 1,58 persen menjadi 101,55. Serta subsektor tanaman pangan yang
ikut tumbuh 1,07 persen menjadi 107,43," ucap dia.
Kemudian, subsektor perikanan menjadi satu-satunya sektor
yang terkoreksi negatif sebesar 1,69 persen menjadi 104,18, yang disebabkan
oleh penurunan pada kelompok perikanan tangkap sebesar 2,13 persen dan
perikanan budidaya sebesar 1,36 persen.
"Meskipun subsektor perikanan mengalami sedikit
tekanan dari sisi harga, sebagian besar subsektor pertanian utama di Provinsi
Lampung mencatatkan performa yang sangat impresif, terutama komoditas
hortikultura dan perkebunan rakyat. Perkembangan ini mencerminkan pulihnya daya
tawar dan penguatan kesejahteraan petani Lampung secara umum dalam menghadapi
dinamika pasar di pertengahan triwulan kedua tahun 2026," tambahnya.
(ant/p1)