lisensi

Sabtu, 20 Juni 2026, Juni 20, 2026 WIB
Last Updated 2026-06-21T00:14:48Z
Info Piala Dunia 2026OlahragaPrestianni Law

Piala Dunia 2026: Mengenal "Prestianni Law", Aturan Baru FIFA yang Bikin Miguel Almiron Diusir Wasit

Advertisement

 


Jakarta (Pikiran Lampung) – Laga Grup D Piala Dunia 2026 antara Turki dan Paraguay tidak hanya menghadirkan persaingan sengit di atas lapangan, tetapi juga mencatat sejarah baru terkait penerapan regulasi FIFA. Gelandang Paraguay, Miguel Almiron, menjadi pemain pertama yang menerima kartu merah akibat melanggar aturan larangan berbicara sambil menutup mulut.


Pertandingan yang berlangsung di San Francisco Bay Area Stadium, Sabtu (20/6/2026), berakhir dengan kemenangan tipis Paraguay 1-0 berkat gol cepat Matias Galarza. Namun, sorotan utama justru tertuju pada insiden yang melibatkan Almiron menjelang turun minum.


FIFA mulai memberlakukan sejumlah aturan baru pada Piala Dunia 2026 sebagai bagian dari upaya meningkatkan transparansi dan sportivitas di lapangan. Salah satu aturan yang paling banyak diperbincangkan adalah larangan berbicara kepada lawan atau ofisial sambil menutupi mulut, yang populer dikenal sebagai "Prestianni Law".


Aturan tersebut diterapkan untuk mencegah tindakan penghinaan, ujaran diskriminatif, maupun komentar yang sulit dibuktikan karena disampaikan secara tertutup. FIFA berharap komunikasi antarpemain berlangsung secara terbuka sehingga memudahkan pengawasan serta penegakan disiplin.


Insiden yang menyeret Almiron terjadi pada penghujung babak pertama. Setelah sebuah pelanggaran di lini tengah, pemain Newcastle United itu terlihat berbicara kepada bek Turki, Mert Muldur, sambil menutupi mulutnya dengan tangan.


Aksi tersebut segera mendapat perhatian perangkat pertandingan dan dilaporkan kepada wasit Ivan Barton. Setelah meninjau tayangan ulang melalui sistem video bantuan wasit (VAR), Barton memutuskan memberikan kartu merah langsung kepada Almiron karena dianggap melanggar regulasi baru FIFA.


Keputusan itu memicu protes keras dari para pemain Paraguay yang menilai hukuman tersebut terlalu berat. Namun, Barton tetap bergeming dan mempertahankan keputusannya. Alhasil, Paraguay harus melanjutkan pertandingan dengan hanya 10 pemain sepanjang babak kedua.


Meski kehilangan salah satu pemain pentingnya, Paraguay mampu menunjukkan disiplin pertahanan yang solid. Turki yang unggul jumlah pemain kesulitan membongkar pertahanan lawan dan gagal memanfaatkan situasi tersebut untuk menyamakan kedudukan.


Gol tunggal Matias Galarza yang tercipta pada awal pertandingan akhirnya menjadi penentu kemenangan Paraguay. Tiga poin tersebut menjaga peluang mereka untuk melangkah ke fase gugur Piala Dunia 2026.


Aturan yang membuat Almiron diusir dari lapangan berakar dari kontroversi yang terjadi pada laga playoff Liga Champions antara Benfica dan Real Madrid pada Februari lalu. Saat itu, Vinicius Junior menuduh Gianluca Prestianni melontarkan komentar bernada rasis sambil menutupi mulutnya ketika berbicara.


Prestianni membantah tuduhan tersebut dan dalam keterangannya kepada UEFA mengaku hanya melontarkan hinaan lain yang tetap dianggap tidak pantas. Kasus itu berujung pada sanksi enam pertandingan, dengan tiga laga di antaranya ditangguhkan selama dua tahun.


Peristiwa tersebut memicu perdebatan luas di dunia sepak bola mengenai pentingnya transparansi komunikasi di lapangan. FIFA kemudian merespons dengan mengesahkan regulasi yang dikenal sebagai Prestianni Law untuk memberikan efek jera terhadap perilaku serupa.


Dengan kartu merah yang diterimanya saat melawan Turki, Almiron kini tercatat sebagai pemain pertama dalam sejarah yang mendapat hukuman langsung akibat pelanggaran aturan tersebut. Insiden ini diperkirakan akan menjadi bahan evaluasi dan perhatian banyak tim selama berlangsungnya Piala Dunia 2026, mengingat ketatnya penerapan regulasi baru oleh FIFA.