Advertisement
Bandarlampung (Pikiran Lampung)- Model program Pembangunan dari desa yang dilakukan oleh Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djuasal dan Wagub Jihan yang didukung oleh Sekdaprov Marindo Kurniawan mendapatkan apresiasi dari pemerintah pusat.
Hal ini dikatakan Menteri Perencanaan Pembangunan
Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rahmat
Pambudy.
Rahmat mengatakan, pendekatan pembangunan berbasis desa yang
dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi Lampung akan menjadi model percontohan
nasional.
"Kami menilai perencanaan pembangunan harus disusun
berdasarkan kondisi riil di daerah, terutama dari tingkat desa," ujar
Rahmat Pambudy di Bandarlampung, Jumat (25/7/2026).
Ia mengatakan, adanya identifikasi persoalan yang
disampaikan Pemerintah Provinsi Lampung, menjadi modal penting dalam penyusunan
kebijakan pembangunan nasional.
"Dengan apa yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi
Lampung, Bappenas akan menjadikan pendekatan pembangunan berbasis desa di
Lampung sebagai salah satu model perencanaan pembangunan," katanya.
Dia menjelaskan pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya
tinggi, tetapi juga harus diikuti pemerataan kesejahteraan masyarakat sehingga
dibutuhkan pendekatan pembangunan yang dimulai dari desa.
"Di Indonesia Timur ada daerah yang pertumbuhannya
sampai 20 persen, tetapi pemerataannya rendah sekali. Kami tidak ingin seperti
itu. Kami ingin pertumbuhan tinggi dan pemerataan juga tinggi. Caranya yakni
dengan pelaksanaan hilirisasi berbasis pertanian," ucap dia.
Menurut Rahmat, pengembangan atau hilirisasi komoditas ubi
kayu memiliki prospek strategis bagi masa depan Indonesia, termasuk sebagai
bagian dari pengembangan energi terbarukan dan industri berbasis pertanian.
"Bappenas siap mempelajari seluruh usulan yang
disampaikan Pemerintah Provinsi Lampung untuk dirumuskan menjadi solusi dan
program pembangunan," tambahnya.
Tanggapan tambahan dikatakan oleh Gubernur Lampung Rahmat
Mirzani Djausal. Pemerintah Provinsi Lampung berupaya untuk mempercepat
transformasi ekonomi desa.
"Program tersebut antara lain dengan pembangunan
fasilitas produksi pupuk hayati cair di 2.500 desa, pembangunan pengering atau
dryer hasil pertanian di 500 desa, peningkatan kapasitas sumber daya manusia
melalui program vokasi, serta penguatan hilirisasi komoditas pertanian melalui
Program Desa Ku Maju," ujar Mirza, panggilan akrabnya.
Melalui program tersebut, pemerintah daerah mendorong agar
komoditas pertanian tidak lagi dijual dalam bentuk bahan mentah, melainkan
diolah menjadi produk bernilai tambah di tingkat desa.
Ia mengungkapkan masih banyak komoditas unggulan Lampung
yang belum diolah secara optimal. Dan kondisi tersebut menjadi peluang besar
untuk meningkatkan nilai tambah melalui pengembangan industri pengolahan di
daerah.
"Kami berharap Bappenas mendukung pengembangan
kawasan industri pangan di Lampung sebagai pusat hilirisasi komoditas pertanian
nasional. Langkah tersebut akan memperkuat nilai tambah produk pertanian,
meningkatkan daya saing industri pengolahan, sekaligus mempercepat pertumbuhan
ekonomi daerah," tambahnya. (ant/p1)