lisensi

Selasa, 04 Agustus 2026, Agustus 04, 2026 WIB
Last Updated 2026-08-04T12:59:31Z
Daerah

MBG Fajar Asri Tak Hanya Penuhi Gizi, Juga Gerakkan Ekonomi dan Buka Lapangan Kerja

Advertisement

 


Seputihagung (Pikiran Lampung) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kampung Fajar Asri, Kecamatan Seputihagung, Lampung Tengah, tak hanya berperan dalam memenuhi kebutuhan gizi anak sekolah dan balita, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap perekonomian masyarakat.


Saat ini, Dapur MBG Fajar Asri melayani 2.942 penerima manfaat yang tersebar di 19 sekolah dan 11 posyandu di wilayah Sulusuban dan Fajar Asri. Jumlah tersebut disesuaikan dari sebelumnya 3.194 penerima manfaat setelah beroperasinya dapur MBG baru di Kecamatan Seputihagung agar pelayanan lebih merata.


Kepala SPPI Fajar Asri, Bayu Arfianto Wahyudi, mengatakan pihaknya juga membuka peluang bagi pelaku usaha lokal untuk memasok kebutuhan dapur, dengan syarat seluruh bahan memenuhi standar keamanan pangan, seperti bersertifikat halal, memiliki izin BPOM, dan berasal dari Rumah Potong Hewan (RPH) yang memenuhi ketentuan.


"Bahan yang dibutuhkan meliputi sayuran, buah-buahan, daging ayam, dan telur dengan kualitas yang sesuai standar," ujarnya.




Program ini juga membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Sebanyak 47 relawan yang bertugas di dapur seluruhnya merupakan warga Kecamatan Seputihagung.


PIC Mitra SPPG, Ana Masriana, menyebut keberadaan dapur MBG telah meningkatkan kesejahteraan warga. Selain memperoleh penghasilan, para relawan juga mendapat lima stel kaos seragam sebagai identitas kerja.


Di bidang pemenuhan gizi, Ahli Gizi Dapur MBG Fajar Asri, Nova Klaudiana, S.Gz., memastikan seluruh menu disusun berdasarkan standar Badan Gizi Nasional (BGN). Penyusunan menu dilakukan untuk 10 hari ke depan dan tetap menyesuaikan ketersediaan bahan tanpa mengurangi standar protein hewani.


"Jika ada bahan yang tidak tersedia, menu akan diganti dengan nilai gizi yang setara. Kami juga berkoordinasi dengan penerima manfaat untuk mengidentifikasi anak yang memiliki alergi makanan," jelas Nova.


Ia menambahkan, tantangan terbesar adalah menyesuaikan menu dengan selera anak-anak. Meski demikian, dapur tetap berpegang pada ketentuan BGN dengan tidak menyajikan makanan pedas.


Manfaat program ini turut dirasakan para relawan. Nita (34) dan Anjas (27), warga Kampung Fajar Asri yang tergabung dalam tim pencuci ompreng, mengaku kini memiliki pekerjaan dan penghasilan tetap sejak dapur mulai beroperasi pada September 2025.


"Kami sangat bersyukur karena program MBG membuka lapangan kerja bagi warga. Harapan kami, program ini terus berlanjut agar manfaatnya semakin dirasakan masyarakat," ujar Nita.(Joe)