lisensi

Rabu, 09 September 2026, September 09, 2026 WIB
Last Updated 2026-09-09T08:19:25Z
Erupsi Gunung Anak Krakatau

Dipantau Langsung dari KRI Lepu-861, Gunung Anak Krakatau Masih Erupsi Pada Rabu Pagi, Berikut Kondisinya

Advertisement



Lampung Selatan (Pikiran Lampung) - Kepulan abu dan asap masih terlihat dari Gunung Anak Krakatau saat aktivitas gunung api tersebut dipantau secara langsung dari laut menggunakan KRI Lepu-861 milik TNI Angkatan Laut, Rabu (9/9/2026).


Pemantauan dilakukan sekitar pukul 10.00 WIB dengan melibatkan sejumlah instansi, di antaranya Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Lampung, Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Lampung, BPBD Provinsi Lampung, Basarnas, serta Institut Teknologi Sumatera (ITERA).


KRI Lepu-861 kemudian mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau untuk mengamati kondisi gunung secara visual dari laut. Pendekatan dilakukan dengan tetap mempertimbangkan faktor keselamatan serta aktivitas vulkanik yang sedang berlangsung.


BPBD Lampung menyebut kegiatan pemantauan tersebut dilakukan atas izin pihak terkait dan mengikuti standar operasional prosedur (SOP) serta ketentuan yang berlaku.


Petugas BPBD Lampung, Wahyu Hidayat, yang berada di atas KRI Lepu-861 melaporkan bahwa aktivitas erupsi masih terlihat. Gunung Anak Krakatau teramati mengeluarkan abu vulkanik dan asap.


“Dari KRI Lepu, mendekati Gunung Anak Krakatau. Erupsi awan masih kita lihat dan itu abu vulkanik yang kecokelatan,” kata Wahyu Hidayat dalam video yang diunggah BPBD Provinsi Lampung.


Menurut Wahyu, dari hasil pengamatan visual, Gunung Anak Krakatau masih menunjukkan keluarnya abu tipis disertai asap.


“Ini lah Gunung Anak Krakatau yang beberapa hari belakangan mengalami erupsi, saya melaporkan dari KRI Lepu. Demikian kondisi Gunung Anak Krakatau teramati mengeluarkan abu tipis dan asap, semoga kita jauh dari bencana,” ujarnya.


Hasil pemantauan visual dari laut tersebut kemudian diperkuat melalui analisis citra RGB Himawari-9. Aktivitas erupsi masih teridentifikasi melalui keberadaan asap dan abu vulkanik.


Berdasarkan analisis tersebut, sebaran debu vulkanik terdeteksi mulai dari permukaan Gunung Anak Krakatau hingga ketinggian sekitar 7.000 kaki atau 2,1 kilometer. Abu vulkanik bergerak ke arah barat laut dan mencakup sebagian wilayah Teluk Lampung.


Pemantauan dari KRI Lepu-861 menjadi bagian dari koordinasi lintas instansi untuk memperoleh gambaran aktual mengenai kondisi Gunung Anak Krakatau. BPBD Lampung menyatakan pemantauan dan koordinasi terus dilakukan untuk memperbarui informasi sekaligus menjadi dasar dalam meningkatkan kewaspadaan masyarakat.


Aktivitas erupsi tersebut berlangsung setelah Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada Rabu dini hari. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat erupsi terjadi pada pukul 00.47 WIB dengan durasi 28 detik.


“Terjadi erupsi G. Anak Krakatau pada hari Rabu, 09 September 2026, pukul 00:47 WIB,” kata PVMBG melalui situs resminya, Rabu (9/9/2026).


Erupsi tersebut terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 51 milimeter dan berlangsung selama 28 detik. Sementara tinggi kolom erupsi tidak teramati.


Dalam periode pengamatan kegempaan yang sama, Gunung Anak Krakatau juga tercatat mengalami satu kali gempa low frequency dengan amplitudo 16 milimeter dan durasi enam detik.


Selain itu, tercatat satu kali gempa hybrid atau fase banyak dengan amplitudo 26 milimeter. Nilai S-P tidak teramati dan gempa tersebut berlangsung selama empat detik.


PVMBG juga mencatat satu kali tremor menerus dengan amplitudo 2-7 milimeter dan dominan 3 milimeter.


Dengan aktivitas vulkanik yang masih berlangsung, pemantauan lintas instansi terus dilakukan untuk memperoleh informasi terbaru mengenai kondisi Gunung Anak Krakatau dan mendukung langkah kewaspadaan masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak.(salsabila)