lisensi

Minggu, 27 September 2026, September 27, 2026 WIB
Last Updated 2026-09-27T08:01:42Z
Nasional

PBB Dorong Penggunaan Peta Dunia yang Lebih Akurat, Afrika Tak Lagi Terlihat Kecil

Advertisement


Jakarta (Pikiran Lampung) – Peta dunia yang selama berabad-abad digunakan untuk menggambarkan permukaan bumi mendapat sorotan baru. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Majelis Umum PBB mengadopsi resolusi yang mendorong penggunaan proyeksi peta yang lebih mampu menggambarkan ukuran relatif benua dan wilayah secara akurat.

Resolusi tersebut disahkan pada 4 September 2026 dengan dukungan 164 negara. Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara yang memberikan suara menolak, sementara enam negara, yakni Estonia, Georgia, Lithuania, Moldova, Serbia dan Ukraina, memilih abstain.

Langkah ini merupakan bagian dari kampanye yang dipimpin Togo bersama Uni Afrika untuk mengoreksi persepsi mengenai ukuran benua Afrika dalam peta dunia. PBB mendorong penggunaan Equal Earth, sebuah proyeksi peta yang mempertahankan perbandingan luas wilayah secara lebih proporsional, maupun proyeksi setara-luas lainnya.

Meski demikian, keputusan tersebut tidak berarti PBB melarang atau secara resmi menghapus penggunaan peta Mercator. Resolusi itu bersifat tidak mengikat dan mendorong pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi internasional serta perusahaan teknologi mempertimbangkan penggunaan proyeksi setara-luas ketika perbandingan ukuran wilayah menjadi hal penting.

Mengapa Peta Mercator Dipersoalkan?

Peta dunia yang selama ini sangat populer dikenal sebagai proyeksi Mercator, yang diperkenalkan oleh kartografer asal Flandria, Gerardus Mercator, pada 1569.

Proyeksi tersebut pada awalnya dibuat untuk kebutuhan navigasi laut. Salah satu keunggulannya adalah membantu pelaut mempertahankan arah pelayaran karena garis tertentu pada peta dapat digunakan untuk menentukan arah kompas secara konsisten.

Namun, keunggulan tersebut memiliki konsekuensi. Proyeksi Mercator tidak mempertahankan ukuran sebenarnya atau luas wilayah. Semakin jauh suatu wilayah dari garis khatulistiwa, semakin besar pula distorsi ukurannya pada peta. Sebaliknya, wilayah yang berada di sekitar khatulistiwa tampak relatif lebih kecil.

Akibatnya, Afrika dalam peta Mercator terlihat jauh lebih kecil dibandingkan ukuran sebenarnya. Greenland bahkan dapat terlihat memiliki ukuran yang hampir sebanding dengan Afrika, padahal luas Afrika sekitar 14 kali lebih besar daripada Greenland.

Hal serupa terjadi pada sejumlah wilayah di belahan bumi utara. Eropa dan Amerika Utara terlihat lebih besar dibandingkan ukuran sebenarnya ketika dibandingkan dengan wilayah-wilayah yang berada di sekitar khatulistiwa.

Equal Earth Jadi Salah Satu Alternatif

Salah satu proyeksi yang mendapat perhatian dalam resolusi PBB adalah Equal Earth. Proyeksi ini dikembangkan untuk menggambarkan luas benua dan negara secara lebih proporsional, sehingga perbandingan ukuran antarkawasan tidak mengalami distorsi seperti pada Mercator.

International Cartographic Association menegaskan bahwa tidak ada satu proyeksi peta dunia yang sempurna untuk seluruh kebutuhan. Setiap proyeksi harus mengorbankan aspek tertentu, seperti bentuk, jarak, arah atau luas, karena permukaan bumi yang berbentuk tiga dimensi harus digambarkan pada bidang datar.

Karena itu, Mercator tetap memiliki kegunaan tertentu, khususnya dalam navigasi. Sementara proyeksi setara-luas lebih sesuai digunakan ketika informasi mengenai luas wilayah menjadi fokus utama, misalnya dalam pendidikan geografi, pemetaan sumber daya alam, perubahan iklim, tutupan lahan dan kepadatan penduduk.

Afrika Ingin Mengubah Cara Dunia Melihat Peta

Togo  salah satu negara yang paling aktif mendorong perubahan tersebut melalui kampanye Correct the Map yang mendapat dukungan Uni Afrika.

Menteri Luar Negeri Togo Robert Dussey menyatakan bahwa peta tidak hanya berfungsi sebagai alat geografis, tetapi juga dapat memengaruhi cara masyarakat memahami dunia. Menurutnya, representasi ukuran wilayah yang lebih akurat penting dalam pendidikan dan pemahaman publik.

Resolusi PBB tersebut juga menyebut pentingnya meningkatkan pemahaman mengenai keterbatasan berbagai proyeksi peta dalam menggambarkan permukaan bumi.

Dengan demikian, perubahan yang didorong PBB bukan sekadar mengganti gambar peta di buku sekolah. Perdebatan ini juga menyangkut bagaimana informasi geografis disajikan dan bagaimana masyarakat memahami perbandingan ukuran antarwilayah di dunia.

Bukan Berarti Peta Lama Hilang

Meski mendapat dukungan mayoritas negara anggota PBB, peta Mercator tidak serta-merta hilang dari penggunaan global.

Resolusi yang disahkan Majelis Umum PBB tidak bersifat mengikat. Negara, sekolah, perusahaan teknologi maupun lembaga lainnya tetap dapat menggunakan proyeksi Mercator sesuai kebutuhan.

PBB justru mendorong agar pemilihan proyeksi disesuaikan dengan tujuan pemetaan. Untuk navigasi, misalnya, karakteristik Mercator masih memiliki kegunaan. Sedangkan untuk menunjukkan perbandingan luas benua, proyeksi seperti Equal Earth dinilai lebih sesuai.

Dengan keputusan tersebut, dunia kini semakin diarahkan untuk memahami bahwa tidak ada satu peta datar yang mampu menggambarkan bumi secara sempurna. Peta hanyalah representasi dari permukaan bumi, dan setiap jenis proyeksi memiliki kelebihan sekaligus keterbatasannya masing-masing.(*)