lisensi

Senin, 19 Oktober 2026, Oktober 19, 2026 WIB
Last Updated 2026-10-19T12:44:00Z
Kesehatan

Kabut Asap Bikin Hidung Makin Rewel? Penderita Rinitis Perlu Waspada

Advertisement



Bandar Lampung (Pikiran Lampung) - Asap kebakaran hutan dan lahan dapat mengiritasi hidung dan saluran napas. Pada orang dengan rinitis, paparan ini dapat membuat hidung semakin sensitif. Mengurangi paparan menjadi salah satu langkah penting agar keluhan tidak semakin mengganggu.


Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian di sejumlah wilayah Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa pemantauan pada 14 Oktober 2026 menemukan 1.297 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi. Citra satelit sehari setelahnya juga memperlihatkan sebaran asap di sejumlah wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.


Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian, terutama bagi masyarakat yang memiliki gangguan pada saluran pernapasan, termasuk rinitis. Rinitis secara sederhana merupakan kondisi peradangan atau gangguan pada lapisan mukosa hidung. Keluhannya dapat berupa bersin, hidung berair, hidung tersumbat, rasa gatal, kering, maupun rasa tidak nyaman pada hidung.


Pada rinitis alergi, keluhan biasanya berkaitan dengan respons tubuh terhadap pencetus alergi tertentu. Namun, asap dan polusi udara juga dapat bertindak sebagai iritan yang membuat hidung menjadi semakin sensitif. Karena itu, seseorang yang memiliki rinitis dapat merasakan keluhan hidung menjadi lebih mengganggu ketika kualitas udara sedang buruk.


Hidung sendiri merupakan salah satu pintu pertama masuknya udara ke saluran pernapasan. Setiap kali seseorang bernapas, udara bersama berbagai partikel di dalamnya melewati rongga hidung. Asap karhutla membawa campuran partikel dan gas, salah satunya PM2,5, yaitu partikel sangat kecil dengan diameter kurang dari 2,5 mikrometer. Karena ukurannya yang sangat halus, partikel tersebut dapat terhirup hingga jauh ke dalam saluran pernapasan.


Paparan asap pada permukaan mukosa hidung dapat menimbulkan iritasi. Pada orang yang hidungnya sudah sensitif akibat rinitis, kondisi tersebut dapat membuat keluhan seperti hidung tersumbat, berair, bersin, kering, atau perih terasa semakin mengganggu. Meski demikian, munculnya keluhan hidung saat udara berasap tidak otomatis berarti seseorang mengalami penyakit tertentu. Beberapa kondisi dapat memberikan gejala yang serupa sehingga diagnosis tetap perlu didasarkan pada riwayat keluhan dan pemeriksaan medis.


Saat kualitas udara memburuk, langkah paling penting bukan sekadar mengatasi bersin atau hidung tersumbat, melainkan mengurangi jumlah asap yang terhirup. Masyarakat dianjurkan memantau informasi kualitas udara, terutama parameter PM2,5 atau Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan. Jika kualitas udara sedang buruk dan asap tampak pekat, aktivitas luar ruangan sebaiknya dikurangi apabila tidak mendesak.


Aktivitas fisik yang berat di luar ruangan juga sebaiknya dibatasi ketika udara sedang tercemar. Saat beraktivitas fisik, seseorang bernapas lebih cepat dan lebih dalam sehingga jumlah udara beserta partikel pencemar yang terhirup dapat meningkat.


Apabila tetap harus beraktivitas di luar, penggunaan perlindungan pernapasan yang sesuai perlu dipertimbangkan. Respirator partikulat seperti N95 yang terpasang dengan baik pada wajah dapat memberikan perlindungan terhadap partikel lebih baik dibandingkan masker yang tidak melekat rapat. Namun, penggunaan masker bukan berarti seseorang dapat berada dalam paparan asap dalam waktu lama karena respirator partikulat tidak menyaring seluruh komponen gas yang terdapat di dalam asap.


Udara di dalam rumah juga perlu dijaga agar tetap sebersih mungkin. Ketika asap di luar sedang pekat, masuknya udara luar dapat dikurangi apabila kondisi ruangan memungkinkan. Sistem penyaringan udara atau penggunaan pendingin ruangan dengan mode sirkulasi ulang juga dapat membantu mengurangi masuknya partikel dari luar.


Pada saat yang sama, sumber polusi dari dalam rumah sebaiknya dihindari. Asap rokok, vape, pembakaran sampah, dupa, lilin, aerosol, maupun kegiatan lain yang menghasilkan banyak asap dapat semakin memperburuk kualitas udara. Pada masa karhutla, rumah sebaiknya menjadi tempat dengan paparan asap serendah mungkin.


Penderita rinitis juga disarankan mengenali pola keluhannya sendiri. Perhatikan apakah bersin, hidung tersumbat, atau hidung berair semakin sering muncul setelah berada di luar ruangan atau ketika kualitas udara memburuk. Informasi mengenai waktu munculnya gejala dan kemungkinan pencetus dapat membantu dokter dalam menentukan penyebab keluhan apabila pemeriksaan medis diperlukan.


Bagi orang yang sebelumnya sudah mendapatkan pengobatan atau rencana perawatan dari dokter, penggunaan obat sebaiknya tetap mengikuti anjuran tenaga medis. Obat tidak dianjurkan untuk ditambah, dikurangi, maupun dihentikan sendiri hanya karena keluhan terasa berubah selama periode kabut asap.


Tidak seluruh penderita rinitis memerlukan pemeriksaan penunjang yang rumit. Ketika pasien datang ke dokter, penilaian biasanya dimulai dengan menggali pola keluhan, lama gejala, kemungkinan pencetus, kondisi lingkungan tempat tinggal atau bekerja, serta riwayat penyakit lain yang menyertai.


Pada pemeriksaan Telinga, Hidung, Tenggorok (THT), dokter dapat menilai kondisi rongga hidung dan permukaan mukosa. Pada keadaan tertentu, pemeriksaan tambahan seperti evaluasi rongga hidung dengan alat khusus atau pemeriksaan alergi dapat dipertimbangkan. Jenis pemeriksaan tentu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien karena tidak semua penderita rinitis membutuhkan pemeriksaan yang sama.


Masyarakat juga perlu memahami bahwa keluhan akibat paparan asap karhutla tidak hanya terbatas pada hidung. Asap kebakaran dapat menyebabkan iritasi mata dan saluran pernapasan serta menimbulkan batuk, mengi, hingga sesak napas. Anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit paru atau penyakit jantung perlu mendapatkan perhatian lebih karena lebih rentan mengalami dampak akibat kualitas udara yang buruk.


Karena itu, penderita rinitis sebaiknya tidak hanya berfokus pada bagaimana menghentikan bersin atau hidung berair. Hal yang lebih mendasar adalah mengurangi paparan asap agar iritasi pada saluran pernapasan tidak terus bertambah.


Keluhan seperti bersin, hidung berair, atau hidung tersumbat juga perlu dibedakan dari tanda bahaya. Segera menuju instalasi gawat darurat atau fasilitas pelayanan kesehatan apabila muncul sesak napas berat, kesulitan bernapas yang nyata, bibir tampak kebiruan, penurunan kesadaran, perdarahan hebat, gangguan menelan berat, atau keluhan pernapasan yang memburuk dengan cepat.


Di tengah musim karhutla, menjaga kesehatan hidung pada akhirnya bukan hanya soal mengurangi rasa tidak nyaman. Hidung merupakan salah satu pintu pertama saluran pernapasan yang setiap hari bersentuhan langsung dengan udara di sekitar kita. Memantau kualitas udara, membatasi paparan asap, menggunakan perlindungan yang tepat, serta mengenali tanda bahaya dapat membantu masyarakat melewati periode kabut asap dengan lebih aman.(*)