Advertisement
Kalteng (Pikiran Lampung)- Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Wakapolri) Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo turun langsung mengecek Posko Induk Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Polda Kalimantan Tengah (Kalteng), Jumat (11/9/2026) kemarin.
Untuk saat ini, Karhutla
Kalteng memasuki fase yang membutuhkan kewaspadaan tinggi.
Kondisi kekeringan yang semakin ekstrem mendorong Polri
memperkuat personel, sarana prasarana, teknologi, serta koordinasi lintas
sektor untuk menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan.
Dalam kunjungan tersebut, Wakapolri didampingi Kalemdiklat
Polri Komjen Pol. Drs. R.Z. Panca P. Simanjuntak. Rombongan diterima Kapolda
Kalteng Irjen Pol. Iwan Kurniawan bersama jajaran.
Kunjungan itu tidak sekadar menjadi agenda pengecekan
administrasi posko. Wakapolri memastikan kesiapan personel, peralatan, serta
strategi penanganan di lapangan. Ia juga mengecek keterlibatan Pamen dan Pati
peserta didik pendidikan kepemimpinan Polri yang diterjunkan ke wilayah
terdampak.
Karhutla Kalteng Libatkan 59 Peserta Didik Polri
Sebanyak 59 Serdik dilibatkan dalam kegiatan penanganan
karhutla di wilayah hukum Polda Kalteng. Mereka terdiri atas 40 Serdik
Sespimmen, 12 Serdik Sespimti, dan 7 Serdik SPPK.
Keterlibatan para Serdik tidak hanya berkaitan dengan
proses pendidikan. Mereka ikut turun ke lapangan untuk memberikan edukasi
kepada masyarakat, melakukan asistensi, sekaligus memberikan saran dan masukan
terhadap strategi penanganan kebakaran.
Langkah tersebut sekaligus menjadi bentuk pembelajaran
kepemimpinan yang bersentuhan langsung dengan persoalan masyarakat. Pengalaman
lapangan diharapkan dapat memperkuat kemampuan para calon pemimpin Polri dalam
mengambil keputusan saat menghadapi bencana.
“Saya mengecek langsung di posko induknya di Polda,
kemudian mengecek langsung bagaimana kesiapannya juga, personelnya, sarana
prasarananya,” ujar Komjen Dedi.
Wakapolri juga mengapresiasi pelibatan para Serdik.
Menurutnya, pengalaman langsung di lapangan dapat menjadi bahan evaluasi untuk
memperbaiki pola penanganan karhutla pada tahun-tahun berikutnya.
“Agar tahun-tahun berikutnya kebakaran hutan yang ada di Kalimantan Tengah bisa ditangani secara efektif, efisien, dan hasilnya bisa maksimal,” jelasnya.
Polda Kalteng juga memperkuat operasi dengan mengerahkan
354 personel Satgas Pemburu Api dari berbagai satuan kerja.
Kekuatan tersebut terdiri atas 55 personel dari 11
subsatgas, 149 personel Samapta, serta 150 personel Brimob.
Mereka bergerak bersama TNI, pemerintah daerah, Manggala
Agni, relawan, dan masyarakat. Operasi mencakup patroli, pencegahan, pemadaman,
pembasahan gambut, hingga penanganan dampak kebakaran.
Kolaborasi tersebut menjadi penting karena karakter
kebakaran di lahan gambut membutuhkan penanganan yang tidak hanya mengandalkan
pemadaman dari udara maupun darat.
Kondisi cuaca turut menjadi faktor yang memperberat situasi.
Wakapolri menyebut periode Agustus-September tahun ini memasuki kondisi El Nino
yang sangat kuat dengan tingkat kekeringan mendekati ekstrem.
“Berdasarkan kondisi objektif ini, tadi Pak Kapolda
menyampaikan memang karena di bulan Agustus-September ini kita sudah masuk El
Nino yang sangat kuat. Tingkat kekeringannya juga sudah mendekati tingkat
kekeringan ekstrem,” kata Komjen Dedi.
Menurutnya, kondisi muka air tanah gambut juga menjadi
perhatian serius. Batas aman disebut berada di sekitar 40 sentimeter, sedangkan
kondisi di Kalteng telah mencapai sekitar 120 sentimeter.
“Untuk kebakaran skala besar ini tidak bisa hanya water
bombing, tidak bisa hanya satgas darat,” tegasnya.
9.440 Hektare Lebih Lahan Terbakar
Data Polda Kalteng per 10 September 2026 menunjukkan skala
persoalan yang cukup besar. Tercatat 109.158 hotspot, 2.909 firespot, dan total
luasan lahan terbakar mencapai 9.440,36 hektare.
Kotawaringin Timur tercatat sebagai wilayah dengan luasan
lahan terbakar terbesar, yakni 2.505 hektare. Berikutnya Pulang Pisau dengan
1.264 hektare dan Kotawaringin Barat mencapai 1.104 hektare.
Ketiga wilayah tersebut menyumbang sekitar 51,6 persen
dari total luasan lahan yang terbakar.
Sementara dari sisi firespot, Palangka Raya mencatat
jumlah tertinggi dengan 592 titik. Kotawaringin Timur berada di posisi
berikutnya dengan 566 titik.
Data tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak
dapat hanya berorientasi pada pemadaman ketika api sudah membesar. Pencegahan,
deteksi dini, pengelolaan lahan gambut, serta kesiapan sumber air menjadi
bagian penting dalam strategi penanganan.
Polda Kalteng Bangun Infrastruktur Pencegahan
Untuk memperkuat penanganan, Polda Kalteng telah membangun
220 sumur bor dan 104 embung air.
Selain itu, dilakukan pembangunan sekat kanal serta
pembukaan akses jalan menuju lokasi kebakaran. Infrastruktur tersebut ditujukan
untuk mempercepat respons ketika titik api muncul sekaligus membantu menjaga
kondisi lahan gambut.
Wakapolri menegaskan bahwa penanganan karhutla merupakan
tanggung jawab bersama. Pemerintah daerah, TNI, Polri, Manggala Agni, relawan,
dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam mencegah kebakaran meluas.
“Usaha maksimal wajib dilaksanakan. Karena ini merupakan
tanggung jawab bersama. Ada pemerintah daerah, ada Korem, kemudian ada Polda
dengan jajarannya, kemudian teman-teman Manggala Agni yang bekerja sangat luar
biasa,” ujarnya.
Kehadiran langsung pimpinan Polri di Posko Induk
Penanganan Karhutla Polda Kalteng menjadi bagian dari upaya memastikan kesiapan
menghadapi kondisi darurat.
Di tengah meningkatnya ancaman kebakaran dan kondisi
kekeringan ekstrem, efektivitas penanganan akan sangat ditentukan oleh
kecepatan deteksi, kesiapan personel, kecukupan sarana, serta koordinasi
antarlembaga. (Mir/R23)