lisensi

Senin, 26 Oktober 2026, Oktober 26, 2026 WIB
Last Updated 2026-10-27T06:47:07Z
Kualitas Proyek Drainase Jl P. Singkep 7 Diduga Tambal Sulam

Drainase Rp694 Juta di Pulau Singkep 7 Sukabumi Disorot, Pekerjaan Lama Diduga Hanya Dipoles

Advertisement



Bandar Lampung (Pikiran Lampung) - Kualitas pembangunan drainase di Jalan P. Singkep 7, dekat Perumahan Villa Marina, Kecamatan Sukabumi, Kota Bandar Lampung, menuai sorotan. Proyek bernilai hampir Rp700 juta yang dibiayai APBD 2026 itu diduga menggunakan metode tambal sulam karena sebagian struktur drainase lama disinyalir masih dipertahankan.


Berdasarkan pantauan langsung di lokasi, pembongkaran dinding drainase dan pemasangan fondasi batu baru terlihat hanya dilakukan pada sejumlah titik. Sementara itu, beberapa bagian lainnya diduga masih menggunakan pasangan batu lama yang diperbaiki dengan lapisan plester dan acian semen.


Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kesesuaian metode pelaksanaan dengan spesifikasi teknis dan dokumen kontrak. Terlebih, lapisan acian pada dinding drainase yang baru dikerjakan terlihat mulai rontok dan mengelupas, meski pekerjaan belum diserahterimakan.


Sorotan lainnya adalah tidak ditemukannya papan informasi proyek saat peninjauan dilakukan. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai keterbukaan informasi terkait pelaksanaan pekerjaan yang menggunakan anggaran publik.


Berdasarkan informasi proyek, pembangunan drainase tersebut memiliki nilai kontrak sebesar Rp694.429.905,51 dengan panjang pekerjaan sekitar 500 meter. Proyek milik Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Bandar Lampung itu dikerjakan oleh CV Dua Ribu Lima melalui APBD Tahun Anggaran 2026.


Dugaan penggunaan metode tambal sulam diperkuat oleh keterangan Wely, salah seorang pekerja di lokasi. Ia mengakui bahwa pembongkaran tidak dilakukan terhadap seluruh bangunan drainase lama.


“Ya memang tidak semuanya bangunan drainase lama dirubuhkan. Yang dibongkar pakai ekskavator dan dibangun dinding baru cuma beberapa titik, termasuk dinding drainase lama yang dulu sempat ambrol,” kata Wely saat dikonfirmasi di lokasi.


Terkait lapisan acian yang mulai mengelupas, Wely menyebut kondisi cuaca panas menjadi penyebabnya. Ia juga mengklaim pengawas dari Dinas PU bernama Jon kerap memantau pelaksanaan pekerjaan tersebut.


“Iya, itu karena cuaca terlalu panas, makanya acian jadi rontok. Kalau pengawas dari Dinas PU, Pak Jon, sering datang ke sini,” ujarnya.


Meski demikian, penjelasan mengenai faktor cuaca tersebut belum menjawab pertanyaan tentang mutu material dan metode pengerjaan yang diterapkan. Kondisi fisik bangunan tetap perlu diperiksa untuk memastikan pekerjaan memenuhi spesifikasi teknis dan ketentuan kontrak.


Warga Khawatir Drainase Kembali Ambrol


Kekhawatiran juga disampaikan warga sekitar yang meminta identitasnya dirahasiakan. Menurutnya, pembongkaran sejak awal lebih banyak terlihat pada bagian yang sebelumnya runtuh serta di sekitar pintu masuk Perumahan Villa Marina.


“Kami sangat khawatir dengan kualitas pekerjaan seperti ini. Apalagi tidak semua dinding drainase lama dibongkar dan dibangun baru. Kalau cuma diaci dan diplester ulang supaya kelihatan baru, bisa-bisa belum lama dipakai sudah ambrol lagi,” keluhnya.


Warga menilai kualitas konstruksi drainase perlu menjadi perhatian serius, terutama menjelang musim penghujan ketika debit air berpotensi meningkat. Apabila struktur yang dipertahankan ternyata tidak lagi memadai, kondisi tersebut dikhawatirkan memengaruhi daya tahan bangunan dan fungsi saluran dalam mengalirkan air.


Dengan nilai kontrak yang mencapai Rp694,4 juta, warga mendesak Dinas PU Kota Bandar Lampung beserta tim teknis terkait melakukan pemeriksaan langsung terhadap pekerjaan tersebut. Evaluasi diharapkan mencakup kesesuaian pelaksanaan dengan Detail Engineering Design (DED), spesifikasi teknis, volume pekerjaan, serta dokumen kontrak.


Pemeriksaan mutu konstruksi dinilai penting untuk memastikan anggaran daerah digunakan sesuai peruntukannya dan hasil pembangunan dapat bertahan dalam jangka panjang. Selain itu, fungsi drainase harus benar-benar optimal untuk meminimalkan risiko kerusakan saluran maupun gangguan aliran air yang dapat berdampak pada masyarakat.(red)